Tuesday, February 11, 2014

AKU CINTA PRODUK INDONESIA

  “Mahakarya dari Negeri Garuda”
 Tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia Bisa!!
  Oleh: Sae Panggalih 

  Mungkin benar selama ini yang orang bilang jika Indonesia adalah negri ibarat “mutiara yang tertutup debu”coba Anda bayangkan keindahan kilauan putih mutiara yang begitu indah apabila tertutupi oleh debu yang kotor maka akan menghasilkan warna mutiara yang terkesan usang dan tidak memiliki nilai estetika dan seni,dan pepatah itu sangat cocok apabila kita kaitkan dengan keadaan perkembangan produk ekonomi kreatif di Indonesia yang seakan-akan pudar ditelan oleh produk-produk barat dan negara lainnya yang hanya mengutamakan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat tanpa memperhatikan kualitas serta mutu produk yang mereka hasilkan,seharusnya Indonesia tidak boleh menyerah dalam mengembangkan produk kreatif negerinya sendiri yang lebih berkualitas dan inovatif,selain itu Indonesia juga harus membuktikan kepada dunia bahwa dibalik kekhawatiran kita terhadap perkembangan produk-produk luar negeri yang berkembang begitu cepatnya di Indonesia ibarat jamur di musim hujan dapat kita lawan dengan menghasilkan produk-produk dalam negeri yang memiliki mutu yang lebih baik dan berkualitas.Melihat dari realita yang ada tersebut,seharusnya masyarakat Indonesia yakin bahwa Negara ini memiliki potensi sumber daya yang mendukung untuk perkembangan produk ekonomi kreatif dan menjadikan hal tersebut sebagai titik awal kebangkitan ekonomi kreatif di Indonesia.

Apa sebenarnya ekonomi kreatif itu?
   Perkembangan zaman memang hal yang tidak dapat dipungkiri dan perubahan-perubahan yang terjadi memang harus diikuti,hal itu jugalah yang terjadi pada perekonomian di dunia,ternyata menurut teori Alvin Toffler bahwa gelombang peradaban manusia itu dibagi menjadi tiga gelombang,gelombang pertama adalah abad pertanian,gelombang kedua adalah abad industri dan gelombang ketiga adalah abad informasi.Sementara itu teori Toffler baru berhenti pada gelombang ketiga padahal teori-teori terus berkembang dan saat ini peradaban manusia telah memasuki masa gelombang keempat atau era dimana ekonomi berorientasi pada kreativitas .Pada era inilah,manusia berlomba-lomba atau saling berkompetisi untuk berinovasi dalam menciptakan produk-produk yang dapat diterima di pasaran global.Dan hal itu sangat sesuai apabila kita hubungkan dengan definisi  Howkins yang menganggap bahwa Ekonomi Kreatif adalah kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah Gagasan. Benar juga, esensi dari kreatifitas adalah gagasan. Bayangkan hanya dengan modal gagasan, seseorang yang kreatif dapat memperoleh penghasilan yang sangat layak. Gagasan seperti apakah yang dimaksud? Yaitu gagasan yang orisinil dan dapat diproteksi oleh HKI. Contohnya adalah penyanyi, bintang film, pencipta lagu, atau periset mikro biologi yang sedang meneliti farietas unggul padi yang belum pernah diciptakan sebelumnya.

Mari bangga dengan produk anak negeri!!
   Mungkin kalimat ajakan diataslah yang dapat dijadikan semangat untuk memacu perkembangan produk ekonomi kreatif dalam negeri dan meyakinkan para konsumen di Indonesia untuk mencintai produk ekonomi kreatif dalam negerinya sendiri yang juga memiliki mutu dan kualitas yang tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri .Hal itu saya himbau karena selama ini kebanyakan masyarakat Indonesia terutama generasi muda selalu berasumsi bahwa produk dari luar negeri lebih berkualitas dan selalu mengikuti perkembangan zaman dibandingkan dengan produk ekonomi kreatif buatan Indonesia yang mereka anggap mutunya asal-asalan dan tidak mengikuti perkembangan zaman,karena kalau bukan masyarakat Indonesia sendiri yang mencintai produk ekonomi kreatif dalam negerinya lalu siapa yang akan mencintai produk ekonomi kreatif kita?
  Siapa bilang produk ekonomi kreatif Indonesia kurang berkualitas dan tidak dapat diterima di pasaran global,menurut informasi yang berhasil saya kutip dari Indonesia kreatif.net mengatakan bahwa sebagian besar produk ekonomi kreatif dalam negeri kita dapat diterima di pasaran global,dan hal itu telah dibuktikan lewat keberhasilan Peter Firmansyah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara di dunia.
  Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri. Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes yang berasal dari Amerika Serikat, dan I am Committing A Sin, Silverstein yang berasal dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim. Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth. Menurut Peter Firmansyah Indonesia mempunyai banyak peluang untuk melebarkan sayapnya dalam pengembangan produk ekonomi kreatif  di pasaran global”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.
   Melihat dari keberhasilan yang dicapai oleh Peter Firmansyah dalam pengembangan produk ekonomi kreatif Indonesia ke pasaran global ,seharusnya sebagai masyarakat Indonesia kita bangga karena ternyata produk nasional kita dapat diterima di pasaran dunia sebagai produk inovasi yang berkualitas dan berkelas,Dan seharusnya program 100% Cinta Produk Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah dapat dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat luas untuk selalu bangga menggunakan produk ekonomi kreatif dalam negeri yang memiliki keunikan tersendiri dan terjamin mutunya.

Inilah saatnya mencintai produk nusantara!!
  Seluruh umat manusia sedang berada dalam era globalisasi saat ini. Setiap individu di berbagai belahan dunia dengan mudah dapat berkomunikasi satu sama lain antarkota, pulau, negara, bahkan benua. Tak terkecuali negara kita, Indonesia, meskipun ada pula beberapa daerah yang masih terbelakang. Namun tidak setiap dampak globalisasi bernilai positif.Ternyata ada juga nilai negatif yang ditimbulkan, dan yang paling utama bagi bangsa Indonesia adalah semakin ditinggalkannya produk-produk dalam negeri oleh masyarakat Indonesia sendiri.
  Sebagian besar masyarakat Indonesia yang termasuk dalam tingkat ekonomi menengah ke atas lebih memilih produk-produk dari negara asing yang berkualitas. Bahkan mungkin bila seseorang yang kaya raya disuruh memilih sebuah tas, antara tas bermerek asing dengan tas khas kerajinan tangan Bali, orang tersebut akan memilih tas bermerek asing, walaupun harganya bisa ratusan atau bahkan ribuan kali lipat dari tas kerajinan khas Bali. Alasannya bemacam-macam, tas branded lebih high-tech, lebih modern, keren, lebih gaya, sampai-sampai ada juga masyarakat yang ternyata hanya membeli barang tiruannya dengan harga yang jauh lebih murah, saking besarnya rasa cinta terhadap produk negara asing!
Sangat memprihatinkan. Yang terjadi adalah justru pandangan rendah orang-orang mengenai budaya Indonesia, yang dianggap kuno, tidak modern. Batik sempat menjadi trend, itupun karena ada negara lain yang mengkalim batik. Sebelum diklaim, tetap saja merek-merek asing yang berkuasa. Indonesia seperti tidak punya tindakan yang sifatnya preventif. Ini sangat tidak baik bagi kelangsungan hidup rakyat kita. Sudah terlalu banyak hal-hal yang sebenarnya telah kita miliki, namun diklaim oleh negara lain.
  Selain itu, masyarakat Indonesia pun tidak percaya pada produk-produk inovasi buatan anak bangsa. Ada seorang arsitek yang berasal dari Indonesia yang memasarkan produknya ke Amerika dan Eropa, dan akhirnya produk tersebut beredar di Indonesia dengan merek asing, dan harganya menjadi mahal karena merek. Alasana arsitek itu melakukan hal tersebut sangatlah jelas, jika tidak demikian maka produknya akan sulit laku di Indonesia (karena merek yang tidak terkenal) dan keuntungan yang dihasilkan akan lebih sedikit karena pasti dijual murah. Toh, jika harganya mahal dengan mereknya ‘jelas’ hanya akan membuat produk semakin tidak laku.
  Oleh sebab itu, sudah saatnya kita mencintai budaya, mencintai produk dalam negeri sebagai upaya untuk mendukung perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Dan seharusnya pengalaman yang sudah terjadi, saat beberapa hal yang kita miliki diklaim negara lain, dijadikan pelajaran bahwa tindakan-tindakan preventif dari masyarakat Indonesia sendiri sangat diperlukan, terutama pada masalah klaim. Kita yang memiliki, seharusnya kita yang mengklaim. Jangan sampai akhirnya seluruh kebudayaan Indonesia habis diambil negara asing dan jangan sampai kita sebagai masyarakat Indonesia baru bangga terhadap produk inovatif kreasi anak bangsa ketika produk budaya maupun kreatifitas bangsa  kita sedang direbut-rebutkan atau diakui oleh negara lain.
   Dan mulai sekarang, tunjukkanlah pada dunia internasional bahwa Indonesia punya kemampuan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif nasional yang lebih berkualitas dan bermutu agar rakyat lebih cinta pada produk kreatif buatan anak negeri.
   

  

No comments: