Sunday, May 18, 2014

Pokdarwis Kandri Siap Operasikan Perahu Wisata 
Sumber : www.Suara Merdeka.com
image
PERAHU: Eko Supriyanto dan pemilik perahu motor berada di antara perahu wisata. (suaramerdeka.com / bambang isti)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Armada perahu wisata yang akan dioperasikan di wisata air Waduk Kreo atau Bendung Jatibarang sudah disiapkan oleh pokdarwis (kelompok sadar wisata) kelurahan Kandri, Gunungpati.
Sekitar 11 perahu motor dari 50 unit yang direncanakan dengan BBM bensin dan berharga Rp 52 juta per unit itu, saat ini ada di rumah salah satu warga, Majuri (56), yang juga pemilik perahu.
Perahu dengan bahan fiber buatan pabrik di Sarangan ini berbobot 1,7 kuintal, dengan panjang 4,5 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 80 sentimeter. Perahu memiliki kapasitas 6 orang termasuk juru mudi.
Menurut Eko Supriyanto, sekretaris podarwis, "Kami berharap perahu-perahu ini sudah bisa dioperasikan untuk libur lebaran dua bulan lagi, sambil menunggu air Bendung  Jatibatang sudah mencapai kedalaman yang direncanakan. Untuk juru mudi adalah pemilik perahu yang sudah dilatih sebelumnya,," kata Eko, Jumat (16/5).
Untuk itu pihak pokdarwis pun sudah membangun dermaga yang kelak bisa digunakan untuk menaik dan turunkan para wisatawan lokal. Dermaga itu berada di sebakh timur parkir Goa Kreo dengan biaya pembangunan ditanggung oleh Balai Besar Wilayah Sungain (BBWS) Pemali-Juwana. 

festival lampion ala kota lumpia

Indahnya Langit Kota Semarang Dihiasi Ribuan Lampion

Angling Adhitya Purbaya - detikNews


Sekitar 5.000 lampion memeriahkan Festival Banjir Kanal Barat dengan tema "Perahu Lampion Warak". Penerbangan lampion diawali oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi kemudian diikuti warga lainnya yang berkerumun di pinggir sungai.

Warga sangat antusias, bahkan ada yang rela membeli lampion dengah harga Rp 20 ribu. Salah satunya pasangan kakak adik Vincen dan Yosi. Mereka nampak antusias menerbangkan lampion yang terbuat dari kertas minyak walau berkali-kali gagal.

"Senang sekali, ini baru pertama kali. Bangga bisa ikut berpartisipasi," kata Vincen kepada detikcom di tepi sungai Kanal Banjir Barat Semarang, Sabtu (17/5/2014) malam.

Penerbangan ribuan lampion itu menarik antusias warga. Ribuan orang tumpah ruah untuk menyaksikan acara yang digelar tahunan tersebut. Selain lampion, 21 kapal hias dengan lampu warna-warni menjadikan sungai Kanal Banjir Barat Semarang nampak indah.

Wali Kota Semarang, Hendrar prihadi mengatakan acara tersebut merupakan rangkaian peringatan hari jadi Kota Semarang ke 467. Acara yang digelar Disbudpar Kota Semarang itu sudah dimulai sejak pagi dengan beberapa acara seperti lomba memancing dengan peserta 4.000 orang, wisata kuliner, dan lomba voli di lapangan Pancasila.

"Ini merupakan upaya agar Semarang lebih hebat dan maju," tegasnya.

Antusiasme warga untuk menyaksikan acara tersebut sangat terlihat dengan kemacetan yang terjadi di beberapa ruas jalan menuju lokasi. Bahkan ruas jalan yang sudah dekat sungai Kanal Banjir Barat macet total. Meski demikian, lalu lintas kembali lancar beberapa menit setelah acara selesai.

Salah satu warga, Sugiarto (33) datang menerjang kemacetan hanya untuk menyaksikan festival lampion dan perahu hias itu. Ia berharap hiburan seperti itu lebih sering diadakan di Semarang.

"Senang bisa ada refreshing, ya minimal bisa tiap tahun gitu," kata Sugiarto.

Thursday, May 15, 2014

CATATAN SANG ETNOGRAFER DI BUMI SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG

CATATAN LAPANGAN ( FIELD NOTE ) :
TERINGAT KAMPUNG DI RITUAL SADRAN MANDUNG
( Sebuah catatan etnografi mengenai ritual sadranan yang sangat fenomenal di Desa Susukan Kabupaten Semarang )
Oleh : Sae Panggalih 

·   Kamis, 21 November 2013




Desa Susukan adalah sebuah desa tersohor di Kabupaten Semarang yang terkenal akan ritual sadran Mandung-nya yang fenomenal dan dapat menarik animo ribuan peziarah dari berbagai macam wilayah di seluruh penjuru Kabupaten Semarang hingga peziarah dari luar Kota untuk berkunjung  ke Desa ini pada waktu penanggalan 21 Suro yang bertepatan dengan hari Jum’at Wage atau Jum’at Kliwon di setiap tahunnya , pengunjung yang hadir hampir berasal dari kelas profesi yang beragam, mulai dari warga yang berasal dari kelas profesi terpandang ( sekelas Bupati , Anggota DPRD,  Camat , Lurah, Guru, Kyai, Dokter, Wirausahawan Sukses, TKI sukses dan Kepala perusahaan bonafide ) hingga kelas profesi biasa atau sederhana ( sekelas Petani, pedagang pasar, Tukang parkir, Satpam, buruh pabrik, hingga pekerja serabutan lainnya ) yang berkumpul “ mangempal manunggal “ di area Makam Ki Mandung dan Nyi Mandung yang terletak di Bukit Gunung Kalong Kabupaten Semarang . Sebetulnya sadranan sendiri berasal dari kata sadran yang menurut kamus bahasa Jawa, Baoesastra Djawa merupakan krama ngoko dari kata ruwah, dan ruwah menjadi satu nama bulan menurut kalender Jawa yakni bulan sebelum bulan puasa (Ramadlan). Dalam kalender Islam bulan Ruwah disebut Sa’ban. Dari kata Sa’ban itulah muncul kata Sadran atau nyadranan yang dapat diartikan sebagai perhelatan acara slametan atau kirim doa untuk para leluhur di petilasan maupun kuburannya . Sedangkan, Menurut keterangan dari Mas Kelana selaku salah seorang mantan anggota Karang Taruna Desa Susukan yang kini sudah menjadi perantau sukses di Kalimantan, menuturkan bahwa ritual sadran Mandung yang diadakan di desanya bukan semata-mata menjadi acara seremonial ziarah kubur biasa , melainkan dalam upacara ini juga dijadikan sebagai ajang temu kangen warga desa Susukan dengan anggota keluarganya yang bekerja di luar kota maupun provinsi , Selain itu Ia juga menuturkan bahwa ada juga sebagian warga perantauan dari desanya yang justru memanfaatkan upacara sadranan ini sebagai ajang pamer kesuksesan dan harta kekayaan yang Ia dapat dari tempat kerjanya di perantauan , biasanya para “ tukang pamer “ ini nantinya akan menggunakan busana mentereng lengkap dengan aksesorisnya yang wah dan tentunya berbeda dengan gaya berbusana warga kampung lainnya yang lebih terkesan ndeso dan sederhana.  


Pada hari ini pula, selain mendengarkan penuturan mendetail dari mas Kelana tentang perhelatan acara Sadran Mandung yang terkenal di desanya , Saya juga sempat diajak olehnya untuk berkunjung ke rumahnya selepas sholat Isya berjamaah di Masjid kampungnya, di dalam rumahnya saya dapat menyaksikan begitu ribetnya persiapan yang harus dilakukan oleh anggota keluarga ini sebelum mengikuti acara sadran Mandung di keesokan harinya , satu ingkung ayam kampung yang diracik dengan bumbu pedas tersaji dengan begitu nikmatnya beserta dengan lalapan komplitnya diatas tampah besar anyaman bambu beralaskan taplak baru bermotifkan batik cap yang nantinya akan diikatkan pada tampah supaya mudah dijunjung atau digendong . menurut Ibu Suratmi , selaku orang tua dari Mas Kelana mengungkapkan bahwa semua hidangan lezat tersebut tidak akan mereka santap pada hari ini, dikarenakan di hari biasa seperti hari ini, mereka cenderung lebih suka menyatap hidangan sederhana seperti halnya sisa sayur oseng-oseng kangkung dan ikan pindang goreng yang saya lihat tersaji di dekat sajian ingkung ayam goreng pedas yang sangat menggoda nafsu makan saya .  “ Kalau di hari biasa kayak gini ya nggak mungkin to mas kita bisa memasak sekumplit hari ini, iso bangkrut lan bobol aku ( diselingi gelak tawanya yang membahana ), semuanya ini biasanya bakal tak masak nalika nyedak’i wayah bodho lan sadran mandung tok…..” tutur bu Suratmi . Dari penuturan bu Suratmi  diatas, Saya dapat memahami bahwa sesungguhnya perhelatan Sadran Mandung memang memiliki nilai kesakralan tersendiri yang nilainya hampir sama dengan hari raya idul fitri ( bodho ) , buktinya keluarga ini rela mempersiapkan hidangan yang bergitu spesialnya guna menyambut perhelatan acara Sadran Mandung yang hanya datang sekali dalam setahun tersebut . 
Seusai berkunjung dari rumah Mas Kelana , Saya berpamitan dengan keluarga besarnya dan segera mengarahkan arah motor Honda matic Saya menuju ke arah bukit Gunung Kalong yang katanya Mas Kelana sedang rame dikarenakan persiapan menyambut acara Sadran Mandung untuk esok hari , dan benar saja pada hari itu , tampak suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya, puluhan warga desa dan beberapa anggota aktif karang taruna desa Susukan berkumpul di area bukit Gunung Kalong guna mempersiapkan perhelatan acara Sadran Mandung , beberapa orang saya lihat sangat sibuk dengan tugasnya masing-masing, seperti kesibukan mendirikan tratag atau panggung perhelatan acara wayangan , pemasangan bendera umbul-umbul warna-warni di beberapa titik jalan masuk desa , pemasangan penjor dari janur kuning di depan gapura raksasa menuju Makam Ki Mandung , dan pemasangan spanduk raksasa di tiang listrik dekat area pemakaman Gunung Kalong yang bertuliskan “ selamat datang di lokasi perhelatan ritual sadran mandung dan sedekah bumi Desa Susukan tahun 2013 “. Sedangkan  di area lain, tepatnya di halaman Mts Miftaful Ulum ( MU ) yang terletak tidak jauh dari makam Ki Mandung, Saya melihat puluhan murid SMP sedang melakukan gladi resik terbangan ( rebana ) yang rencananya akan dimanfaatkan sebagai musik pengiring prosesi arak-arakan kirab Gunungan warga Desa menuju ke lokasi Makam Ki Mandung esok . Menurut penuturan Pak Zamzuri , Selaku salah seorang warga asli Desa Susukan yang kebetulan sekali menjadi guru pengelola ekskul terbangan di Mts ini , mengatakan bahwa persiapan penyambutan acara sadran Mandung ini, sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga Ia berharap bahwa di keesokan harinya, para peziarah dari berbagai macam wilayah dapat menyaksikan kirab akbar acara sadranan yang berkesan meriah dikarenakan rantak musik rebana atau terbangan hasil siswa didikannya yang terdengar apik dan serasi di telinga para pengunjung . “ Ya maklum saja to mas..acara ini hanya ada setahun sekali dan sudah menjadi tradisi tahunan di Desa Susukan, jadi wajar saja kalau Saya dan murid-murid eksul terbangan yang tak kelola ini, mencoba untuk memberikan penampilan terbaik agar para peziarah yang datang dari seluruh wilayah Kabupaten Semarang dan luar kota senang sekaligus terhibur dengan acara sadran Mandung besok“ tutur Bapak Zamzuri . Selain itu, Pak Zamzuri juga mengatakan bahwa dalam acara kirab besok , juga akan dimeriahkan dengan hiburan barongsai dan Liong ( tari Naga ) yang merupakan sumbangan hiburan dari Wihara Avalokitesvara yang berlokasi satu komplek dengan area makam Ki Mandung , “ Kalau diacara sadran Mandung , orang Cina sama Jawa itu nantinya saling tulung-tinulung dan nggak saling membeda-bedakan diri, semuanya mbaur dalam kemeriahan acara Sadran Mandung “ tutur Pak Zamzuri .

·   Jum’at , 22 November 2013



Pagi ini, tepat pukul 06.30 pagi, Saya arahkan langkah kaki menuju kearah rumah Mas Kelana, hal itu dikarenakan semalam Saya sempat janjian untuk bergabung bersama keluarga besarnya di dalam perhelatan acara Sadran Mandung hari ini ( Maklum Saya bukan orang asli desa ini, jadi keputusan untuk bergabung dengan anggota keluarga Mas Kelana yang merupakan warga asli Desa Susukan adalah sebuah keputusan yang tepat agar Saya bisa membaur dengan warga desa yang lain ) . Dengan menggunakan busana batik motif parang rusak sarimbitan warna coklat tua ( yang Saya rasa terlihat masih baru ) , Mas Kelana dan keluarga besarnya ( yang terdiri dari Ayah, Ibu, dua adiknya , dan neneknya ) berjalan bersamaan menuju kearah SDN Susukan 01 yang ternyata telah disepakati oleh warga Kampung untuk menjadi tempat Start pemberangkatan acara arak-arakan kirab Gunungan sedekah bumi menuju ke lokasi utama perhelatan akbar acara Sadranan yang diadakan di area Pemakaman yang terletak di bukit “ Gunung Kalong “ . Selama perjalanan menuju ke SD Susukan, Saya disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan dan Saya rasa hanya ada sekali dalam setahun, ratusan warga berjalan secara bersamaan menuju ke arah SD Susukan dengan mengenakan baju tradisional ( berupa kebaya atau baju batik ) dan   membawa berbagai macam hidangan lezat berporsi besar yang diwadahi dengan menggunakan bakul , tampah , keranjang plastik atau tenggok yang digendong menyamping dengan menggunakan Selendang batik , Mas Kelana menuturkan bahwa makanan yang dibawa oleh para warga  tersebut nantinya akan dimakan bersamaan di depan makam leluhur masing-masing warga desa, hal itu dilakukan sebagai simbol bahwa anggota keluarga yang masih hidup masih peduli terhadap keberadaan para leluhurnya yang telah meninggal , dan rasa kepedulian tersebut diwujudkan dengan tradisi “ makan bersama “ yang diyakini juga dihadiri oleh arwah para leluhur yang khusus datang pada hari itu dan ikut membaur dalam acara makan besar tersebut . Hal itulah, yang disinyalir menyebabkan banyak warga yang berasal dari luar kota dan provinsi, memutuskan dan mengusahakan diri untuk pulang kampung di waktu hari Sadran Mandung agar mereka bisa bersua dan mendoakan para leluhurnya agar dapat hidup tenang dialam akhirat, Selain itu Mas Kelana juga mengungkapkan bahwa kewajiban menghormati jasa para leluhur sudah menjadi suatu tradisi yang telah mendarahdaging di dalam hati masyarakat desa Susukan dan tertuang pula di dalam pandangan hidup lokal yang berbunyi “ Jasane leluhur  kuwi kayata godhong sulur , bakal dieling-eling sakdawane umur para panerus leluhur “ yang berarti Jasa Pengorbanan yang telah dilalukan oleh para leluhur diibaratkan seperti daun sulur , akan selalu dingat oleh para generasi penerus di sepanjang usianya . Hal itu mengisyaratkan bahwa di dalam perjalanan hidupnya, pantang hukumnya bagi warga desa Susukan untuk melupakan jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para leluhur yang telah mengawali asal-mula berdirinya Desa Susukan. Dan menurut sepengetahuan Saya sendiri, nilai pandangan hidup lokal tersebut memang benar adanya, buktinya di hari Sadran seperti hari ini, ratusan warga desa Susukan ( baik yang masih tinggal di Desa maupun sudah hijrah ke luar kota ) masih sering menyempatkan dirinya untuk mengenang dan menghormatri jasa-jasa para leluhur desa yang telah mendahuluinya dengan cara berkunjung ke makam leluhur mereka .
Sesampainya di SDN Susukan 01 , Saya dan rombongan keluarga besar Mas Kelana dikejutkan dengan rantak musik terbangan yang bertalu-talu diselingi dengan tabuhan genderang musik barongsai khas Tionghoa yang menyeruak ke seluruh penjuru Desa Susukan yang seolah-olah menjadi tanda pengingat bagi para warga agar se-segera mungkin hadir di SD Susukan guna mengikuti perhelatan acara sadran Mandung di pagi hari ini . Riuh suara warga Susukan yang gembira menyambut perhelatan ini terdengar hampir di setiap sudut SD Susukan , sembari menunggu pemberangkatan, Saya dan Mas Kelana sempat berkeliling mengamati aktivitas warga yang hadir, di beberapa sudut tempat duduk panjang ( buk ) di depan ruang-ruang kelas , Saya sempat menjumpai beberapa kalangan ibu-ibu yang sedang sibuk berbincang-bincang membicarakan soal keluarganya , tetangganya, dan topik hidangan apa yang mereka bawa dalam acara sadran kali ini disertai dengan cerita pembuatan masakannya . Sedangkan di sudut lain, tepatnya di area lapangan upacara SD Susukan , Saya menjumpai berbagai macam aktivitas pengisi acara kirab yang terlihat sibuk mempersiapkan dirinya masing-masing didalam menyesuaikan formasi urutan barisan kelompoknya sebelum acara tersebut resmi diberangkatkan oleh Lurah Desa Susukan , dari formasi barisan peserta kirab , Saya dapat melihat berbagai macam pengisi acara kirab , yang diawali dari rombongan barisan wanita berjumlah 6 orang dan pria berjumlah 6 orang berbusana jawa jangkep ( beskap dan kebaya ) yang terlihat membawa hantaran berupa jajan pasar yang diwadahi di dalam tampah bambu , rombongan barisan murid-murid perwakilan dari SD Susukan yang terdiri dari 4 orang siswa yang bertugas membawa kembang Manggar ( Replika kembang kelapa yang terbuat dari kertas paper crap warna-warni ) , Rombongan barisan grup rebana pimpinan Bapak Zamzuri yang terdiri dari 15 siswa, Rombongan barisan siswa Mts pembawa gunungan hasil bumi yang terdiri dari gunungan yang berisi lauk pauk, buah-buahan , dan sayur- mayur , Rombongan barisan grup kesenian Barongsai lengkap dengan musik pengiringnya sumbangan dari Wihara Avalokitesvara, Rombongan barisan karang taruna dan warga biasa yang membawa tenggok ataupun keranjang yang digendong menyamping menggunakan kain batik , dan diakhiri dengan rombongan barisan sebuah mobil pick-up yang berisi grup terbangan warga sumbangan swadaya dari Masjid Al-Hidayah Desa Susukan .
Tepat jam 07.00 pagi , Semua barisan rombongan kirab yang terdiri dari rombongan warga dan pengisi acara tersebut resmi diberangkatkan oleh Bapak Lurah Desa Susukan , Bendera start bermotif kotak-kotak hitam putih khas papan catur dikibar-kibarkan dengan begitu bersemangatnya oleh Pak Lurah , hal itu tentunya diikuti pula dengan langkah kecil para warga desa Susukan yang berjalan secara bersamaan dari SD Susukan menuju ke Lokasi perhelatan acara di kompleks pemakaman Ki Mandung dan Nyi Mandung yang berjarak kira-kira 3 km dari lokasi start , Kemeriahan acara kirab semakin meriah ketika suara hentakan musik rebana dan ritme pukulan genderang musik barongsai berpadu dengan begitu apiknya selama proses perjalanan kirab yang diselingi dengan lagu-lagu sholawat yang dinyanyikan dengan menggunakan bahasa Jawa dan Arab oleh para warga . Selama prosesi kirab, Saya melihat banyak warga desa dan wartawan televisi serta surat kabar lokal yang rela berdesak-desakan di pinggiran jalan hanya untuk mengabadikan momen bersejarah ritual Sadran Mandung yang hanya terjadi sekali dalam setahun ini . Dari antusiasme warga yang menyaksikan di pinggiran jalan, Saya dapat memahami bahwa ternyata acara kirab yang diadakan sangat berarti bagi warga desa dan dapat menjadi simbol “ nyuwun berkah “ dari prosesi kirab ini, buktinya selama perjalanan, Saya disuguhi oleh pemandangan warga desa yang rela berebutan patahan kembang Manggar yang jatuh ke tanah selama prosesi kirab berlangsung, Menurut Mas Kelana, warga desanya masih mempercayai bahwa “ segala macam benda yang jatuh ke tanah dan jalanan selama prosesi kirab berlangsung merupakan simbol dari keberkahan, hal itu dikarenakan sebelum diberangkatkan, semua benda-benda yang dikirab telah didoakan oleh seluruh warga kampung dan sesepuh desa agar bisa migunani bagi semua “, jadi tidak ada salahnya, apabila ada benda kirab yang jatuh, warga langsung berebutan untuk mengambilnya dan membawanya pulang agar bisa memberi keberkahan untuk seluruh anggota keluarganya di rumah .


Tepat pukul 08. 05 pagi, seluruh warga desa peserta kirab tiba di kompleks pemakaman Gunung Kalong yang merupakan tempat dimana para leluhur warga dan sesepuh desa ( Ki Mandung dan Nyi Mandung ) dimakamkan , secara bersama- sama para warga desa Susukan ( termasuk Saya dan keluarga besar Mas Kelana ) berduyun-duyun menaiki anak tangga yang mungkin jumlahnya ratusan buah, menuju ke makam leluhur warga yang terlertak di atas bukit Gunung Kalong. Di atas bukit ini , Saya dapat mendengar merdunya lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan melaui pengeras suara oleh salah seorang warga dan melihat hamparan pohon kamboja putih dan deretan batu nisan berbagai macam model di area bukit yang cukup luas ini . Tetapi disalah satu sudut lahannya , Saya melihat ada suatu bangunan yang terlihat cukup berbeda dari makam warga kebanyakan , sebuah pendhopo besar berukirkan ukiran khas Jepara yang sangat artistik dan berkesan gagah tersaji di depan mata Saya dan diselimuti oleh kain berwarna putih di setiap pojok ruangannya , Setelah Saya tanyakan ke Mas Kelana tentang apa fungsi bangunan itu, Saya baru mengetahui bahwa ternyata pendhopo tersebut adalah makam dari sesepuh Desa Susukan yang legendaris dan sangat dihormati ( Ki Mandung dan Nyi Mandung ) yang menurut sejarahnya merupakan pendiri awal ( sing bahurekso ) Desa Susukan . Setelah tiba di atas kompleks pemakaman para leluhur warga , Saya mengikuti langkah keluarga Mas Kelana menuju ke salah satu pathok atau nisan dari salah satu leluhurnya, yang ternyata adalah makam dari Mbah kakung atau kakeknya sendiri ( bernama Mbah Toekiman ) yang telah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 2004 lalu, di area makam kakeknya yang letaknya tidak jauh dari Makam Ki Mandung dan Nyi Mandung , Mas Kelana sekeluarga menggelar tikar yang telah mereka bawa dari rumah di sekitar area makam kakeknya tersebut, setelah tikar sudah terpasang ditempatnya, Kami semua duduk sejenak diatas tikar tersebut dan menunggu sesi doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang sesepuh Desa Susukan . Setelah 10 menit berlalu , akhirnya sesi doa yang kami tunggu-tunggupun dimulai, Seluruh warga berdoa secara khusyuk di depan makam leluhurnya masing-masing, tak lupa taburan bunga segar aneka warna mereka taburkan diatas makam leluhurnya seraya menyiraminya dengan sebotol air mawar yang telah mereka persiapkan . Setelah prosesi berdoa massal selama kurang lebih 10 menit di atas pusara para leluhur usai , acara dilanjutkan dengan agenda makan bersama yang dilakukan disekitaran pathok makam leluhur masing-masing warga yang ditemani dengan semerbak harum kembang tabur yang menyeruak tajam hingga ke dalam hidung , di prosesi makan besar ini, warga secara bersamaan mengeluarkan seluruh hidangan yang telah mereka masak semalaman suntuk, di acara ini pula, seluruh warga diperkenankan memakan masakan buatan keluarganya sendiri atau boleh juga ditukar dengan masakan dari warga lain, penukaran makanan yang dibawa disinyalir dapat semakin merekatkan rasa kebersamaan antar warga yang mau saling peduli terhadap warga lain yang tinggal satu desa . Untuk keluarga Mas Kelana sendiri , memilih untuk menukarkan hidangan satu ingkung ayam goreng pedas manis yang mereka bawa dengan hidangan makanan Opor Ayam dan sambel goreng ati lengkap dengan lontongnya dari keluarga Pak Suhud ( yang kebetulan masih tetangga satu RT dengan Mas Kelana ) . Setelah proses tukar-menukar hidangan usai , Saya dan mas Kelana sekeluarga menyantap hidangan opor ayam dan sambal goreng ati buatan Bu Suhud yang ternyata rasanya sangat lezat dan tidak jauh berbeda dari nikmatnya ayam Goreng pedas manis buatan Bu Suratmi ( Ibunya Mas Kelana ) yang dimasaknya semalam . Sembari menyantap hidangan lezat yang disuguhkan, Mas Kelana menceritakan kepada Saya tentang mitos larangan membawa makanan berbahan dasar tempe diacara ini, Ia mengatakan bahwa di masa lalu , konon ada salah seorang murid Ki Mandung yang bernama Syeh Hasan Husen , suatu hari berjalan menyusuri sungai sampai pada suatu tempat Ia melihat segerombolan perempuan-perempuan yang sedang menginjak-injak kedele yang akan disiapkan untuk dibuat tempe. Setelah melihat kejadian itu, dia tidak mau lagi mengkonsumsi tempe dikarenakan tidak suka dengan cara pembuatan makanannya yang dinjak-injak dengan menggunakan kedua telapak kaki yang belum tentu bersih dari kotoran.



Setelah usai menyantap makanan yang dibawa , Saya dan Mas Kelana menyempatkan diri untuk berkeliling di sekitaran area kompleks pemakaman Gunung Kalong ini , dan dari hasil jalan-jalan singkat kami ini, Saya bisa menyaksikan begitu padatnya kawasan pemakaman dihari ini, tidak ada satupun pathok yang lengang dan sepi dari aktivitas berziarah , Semua warga bisa dikatakan tumplek blek ( berkerumun menjadi satu ) di lokasi pemakaman yang sama , mulai dari anak kecil usia balita hingga kakek nenek tua renta semuanya membaur menjadi satu di acara berskala tahunan ini. Di beberapa sudut lahan pemakaman,  Saya dapat menemukan fenomena “ Si Tukang Pamer dari Perantauan “ yang diceritakan oleh mas Kelana semalam, hal itu dapat terlihat dari model pakaian beserta aksesoris yang mereka kenakan dan seperangkat alat komunikasi canggih ( gadget ) yang mereka bawa ke area ziarah , mulai dari telepon seluler model terbaru buatan Korea hingga I-pad terbaru keluaran China . Selain diajak menikmati pemandangan unik ala sadran Mandung , Saya juga sempat diajak Mas Kelana untuk bertemu dengan teman lamanya yang bernama Mas Panji yang kebetulan pernah bersekolah di satu SMK dengannya dan kini telah bekerja menjadi karyawan di salah satu pabrik konveksi ternama di Bandung , di sela-sela sesi temu kangen mereka berdua, Saya sempat menanyakan kepada Mas Pandji tentang alasan apa yang menyebabkan beliau dan para perantau yang lain memutuskan untuk pulang ke Desa Susukan disaat perhelatan acara Sadran Mandung , Dengan raut wajah bahagia diapun menjawab bahwa “ Acara ini sudah menjadi bagian kehidupan dari warga desa Susukan dan menjadi agenda wajib disetiap tahunnya “ Jadi , dimanapun kita berada sekarang, wajib hukumnya untuk pulang kampung dikala ada penyelengaraan ritual semacam ini dikarenakan berziarah ke makam leluhur selain bertujuan untuk kirim doa dan melestarikan tradisi, juga dapat diumanfaatkan untuk meningkatkan rasa eling terhadap asal-usul kita ( dari mana kita berasal dan dibesarkan hingga menjadi orang sukses seperti sekarang ini ) , jangan sampai pepatah Jawa yang berbunyi “ Kacang lali Lanjarane “ yang berarti seseorang yang lupa akan asal-usul dimana Ia berasal dan dibesarkan berlaku untuk setiap warga Susukan . Jadi alasan tersebutlah yang pada akhirnya membuat seluruh perantau memutuskan untuk pulang kampung dikala perayaan acara Sadran Mandung .
Di sela-sela perbincangan kami bertiga mengenai makna pulang kampung disaat ritual Sadran Mandung , tepat pukul 10.30 pagi terdengar pengumuman melalui pengeras suara dari Juru Kunci Makam Ki Mandung dan Nyi Mandung yang mengatakan bahwa sesi puncak acara sadran Mandung berupa acara Grebeg tumpeng hasil bumi akan segera dimulai , tanpa pikir panjang ( Saya, Mas Kelana, dan Mas Panji ) segera mendekat ke sumber suara, dan benar saja area di depan pendhopo Makam Ki Mandung dan Nyi Mandung telah dikerubuti oleh para peziarah dari segala penjuru negeri yang tengah bersiap untuk memperebutkan hasil bumi dari gunungan yang telah diarak pagi tadi. Selesai sesi berdoa secara singkat didepan makam Ki Mandung dan Nyi Mandung , Juru kunci makam segera memberikan aba-aba pertanda prosesi grebeg tumpeng akan segera dimulai, tanpa menunggu lama-lama dan tanpa menghiraukan aba-aba yang dinstruksikan , ratusan warga yang telah berkumpul di depan gunungan segera menggrebeg dan saling bersaing untuk memperebutkan isi gunungan , mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, hingga lauk pauk khas sedekah bumi , alhasil keriuhan suara ratusan warga yang saling berteriak memperebutkan isi gunungan-pun terjadi dan bahkan ada yang berakhir pula dengan tragedi konflik kecil-kecilan antar warga akibat tidak kebagian isi gunungan yang untungnya berhasil diredam oleh bapak-bapak hansip yang siap sedia untuk menjaga keamanan selama acara ini berlangsung . 
Tepat pukul 11.00 siang menjelang Sholat Jum’at , acara Grebeg Sedekah Bumi dan ritual Sadran Mandung tahun 2013 dinyatakan berakhir oleh Sesepuh Desa dan Juru Kunci Makam dikarenakan sudah mendekati waktu sholat Jum’at , setelah mendengar pernyataan tersebut, ratusan warga memutuskan diri untuk pulang ke rumahnya masing-masing dengan membawa hasil grebegan yang telah didapatkannya dengan penuh pengorbanan , Menurut Mbah Giran ( salah seorang warga desa Susukan yang Saya ajak berbincang ketika sedang menuruni anak tangga makam ) mengatakan bahwa hasil bumi yang Ia dapatkan ini ( berupa dua buah apem dan satu ikat kacang panjang )  tidak akan dimakan oleh keluarganya, melainkan hasil grebeg berupa dua buah apem akan Ia taburkan disepetak lahan sawah sederhana milik keluarganya dan satu ikat kacang panjang yang Ia dapatkan akan ditanam di belakang gubuk tempat tinggalnya, Ia mempercayai bahwa nantinya, hasil grebeg tersebut akan membawa berkah bagi kehidupannya , terutama berkah didalam kehidupan ekonominya melalui perolehan hasil panen padi yang melimpah dan panen tanaman kacang panjang yang Ia tanam .


Tepat pukul 11.30 siang , Saya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan Mas Kelana dan Keluarga besarnya dikarenakan Saya harus pulang kerumah terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri sebelum bergabung dalam ibadah Sholat Jum’at di hari itu , Tetapi sebelum berpisah , Mas Kelana sempat mengatakan kepada Saya bahwa besok Malam akan digelar acara pertunjukan wayang kulit dan ketoprak humor semalam suntuk di plataran komplek makam Gunung Kalong yang akan dihadiri seluruh warga desa baik yang berasal dari tempat perantauan maupun warga asli Desa Susukan , Mendengar informasinya tersebut, Saya menjadi tertarik untuk menghadiri acara tersebut dikarenakan Saya berharap dapat menyaksikan secara langsung interaksi sosial yang terjalin antara warga kampung asli yang masih tinggal di Desa Susukan dan Warga kampung asli yang telah tinggal lama di perantauan .    
·   Sabtu , 23 November 2013
Malam ini, tepat pukul 20.00 , cuaca malam tampak begitu cerah diterangi oleh sinar bulan yang bersinar di seluruh desa , Saya arahkan laju motor matic Honda andalanku menuju kearah rumah Mas Kelana guna menepati janjiku supaya bisa menikmati pertunjukan wayang kulit dan dagelan ketoprak humor selama semalaman suntuk bersama keluarga besarnya, setibanya dirumah Mas Kelana , ternyata tidak semua anggota keluarganya berminat untuk ikut ke lokasi perhelatan acara kesenian tersebut dikarenakan alasan waktu pelaksanaan yang begitu larut malam, Ibunya ( Bu Suratmi ) , adiknya yang masih balita ( dek Putri ) , dan neneknya ( Mbah Sumini )  memutuskan untuk menetap dirumah saja sembari menikmati acara hiburan di televisi nasional yang dianggapnya tak kalah menarik dengan acara live wayangan dan dagelan ketoprak humor yang dipentaskan di plataran Pemakaman Ki Mandung . Sedangkan yang memutuskan untuk berangkat menikmati pertunjukan kesenian bersama Saya malam itu , hanyalah Mas Kelana, adiknya yang sudah duduk di bangku kelas satu SMK ( Dek Bintang ) , dan Bapaknya ( Suparman ) .
Perjalanan menuju ke lokasi perhelatan acara kami tempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit dengan menggunakan dua kendaraan bermotor ( Motor Saya dibonceng oleh Pak Suparman dan Motor Kelana dibonceng oleh Dek Bintang ) .Sesampainya kami dilokasi perhelatan , kedatangan kami disambut oleh merdunya alunan musik klonengan gamelan Jawa yang terdengar hampir di seluruh sudut plataran Pemakaman Gunung Kalong , selain itu dari lokasi yang sama juga terdengar suara riuh para penjual makanan yang sedang berusaha menjual produknya masing-masing ( mulai dari pedagang ronde, kacang rebus, keripik, arum manis, jagung bakar, dan hidangan malam hari lainnya yang berkumpul disekitaran gerbang menuju lokasi panggung utama perhelatan acara wayangan dan kethoprak ) .Tepat pukul 21.00, acara wayangan dan dagelan ketoprak dimulai , seluruh warga membaur menjadi satu di lokasi perhelatan acara ( ada  warga yang memilih untuk duduk di kursi yang telah disediakan panitia dan ada pula warga yang memilih untuk duduk lesehan di depan panggung utama dengan beralaskan tikar dan Koran yang dibawa dari rumah masing-masing ), Menurut keterangan Mas Kelana, mayoritas warga yang hadir pada malam itu justru lebih didominasi oleh warga asli Susukan yang menjadi perantauan di luar kota bahkan hingga luar negeri , buktinya Ia hanya dapat melihat sedikit sekali jumlah tetangga asli kampungnya yang menghadiri acara malam itu “ barangkali mereka semua kangen dengan hiburan tradisi kayak gini , soale di daerah perantauannya mungkin mereka jarang sekali dapat menikmati hiburan ala Jawa selengkap sekarang ini “ tutur Mas Kelana kepada Saya .
Selama acara kesenian berlangsung, kami disuguhi dengan berbagai macam adegan khas pertunjukan wayang purwa dan ketoprak tradisional yang sangat klasik serta menghibur dan sarat akan nilai-nilai kehidupan hingga pukul 02.00 dinihari . Seusai acara pagi itu , Saya dan ketiga anggota keluarga Mas Kelana yang terdiri dari Ayah dan seorang adiknya memutuskan untuk mampir sejenak ke sebuah kedai nasi kucing untuk membeli wedhang ronde hangat pereda rasa dingin di pagi buta itu , di balik terpal warung kucingan , kami berempat berbaur dengan dua orang warga lainnya yang sedang sama-sama pula menikmati aneka minuman hangat khas warung kucingan, Di sela-sela waktu menikmati minuman hangat yang kami beli, Saya dan Mas Kelana sempat terlibat perbincangan ringan dengan dua orang pembeli lain yang sedang duduk bersebelahan dengan rombongan kami, ternyata setelah ngobrol ngalor-ngidul , Saya bisa mengetahui bahwa kedua orang tersebut bernama Pak Sudirman dan Pak Tohirin yang merupakan warga asli Desa Susukan yang memutuskan untuk pulang ke desa untuk pertama kalinya setelah menjadi perantau ke Pulau Sumatera sejak tahun 1997 . Dari keterangan yang Saya peroleh dari keduanya , Saya dapat menyimpulkan bahwa tradisi pulang kampung disaat perayaan Sadran Mandung memang sudah menjadi hal yang diagendakan bagi warga Desa Susukan yang bekerja di perantauan , Jadi jika suatu waktu ada perantau yang memutuskan tidak pulang kampung di waktu bulan Suro , maka anggota keluarganya yang tinggal di Desa akan bersedih dan kecewa dikarenakan si Perantau tidak dapat hadir dalam acara Sadran Mandung yang sarat akan nilai-nilai penghormatan terhadap jasa para leluhur yang hanya diadakan sekali dalam setahun . 
·   Minggu , 24 November 2013

Hari ini merupakan hari terakhir Saya bisa berbincang dengan Mas Kelana, hal itu dikarenakan keesokan harinya Ia harus sudah kembali bekerja di tempat mengais rejekinya di Kalimantan , Dari perjumpaan kami di beberapa hari belakangan ini, Saya dapat menyimpulkan bahwa bagi para perantau asli Desa Susukan , pulang ke Kampung Halaman memang sudah menjadi ritual wajib yang harus dilakukan di waktu hari Raya Idul Fitri dan Sadran Mandung , karena dengan kehadiran mereka di sisi keluarga di kampungnya dapat menyimbolkan rasa penghormatan para perantau terhadap jasa para leluhur asli Desa Susukan. Sehingga predikat “ kacang lupa kulitnya “ atau dalam bahasa Jawanya kerap disebut “ kacang lali lanjarane “ tidak dapat dengan mudah disematkan kepada setiap individu para perantau yang dalam kenyatannya masih teringat dengan kampung halamannya di Desa Susukan berkat perantara ritual Sadran Mandung yang seakan-akan mengisyaratkan kepada para warga desa agar tidak dengan begitu mudahnya melupakan jasa dan perjuangan para leluhur di dalam membangun Desa yang kini mereka tempati bersama . 

EDISI PENGETAHUAN SPESIAL HARI RAYA WAISAK 2014

Merapi Pernah Ratusan Tahun Mengubur Borobudur



YOGYAKARTA- Jangan heran bila letusan gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga 11 November 2010 masih berlangsung ini abunya menyebar hingga ke DIY, Jateng dan Jawa Barat. 

Tentu saja termasuk dua candi terkenal di dunia yaitu Borobudur di Magelang dan candi Prambanan di Klaten tak luput dari siraman abu vulkanik dari Merapi. Bahkan dahulu Merapi pernah mengubur candi Bodobudur dan Prambanan selama ratusan tahun.

Gunung Merapi menyemburkan awan panas (wedhus gembel) yang menggulung sebagian desa di bawahnya. Kinahrejo dan Kaliadem adalah dua dusun yang hancur diterjang awan panas bercampur kerikil, pasir, dan abu yang panasnya mencapai lebih 600 derajat Celcius. 

Mas Penewu Surakso Hargo atau Mbah Maridjan, ikon kearifan lokal, abdi dalem keraton di gunung itu, meninggal diterjang awan panas dalam posisi sujud, karena dia sedang shalat magrib.

Gunung Merapi merupakan gunung superaktif dan memiliki karakter ”aneh” dibanding gunung berapi lain di dunia. Berkali-kali ia memuntahkan lahar yang didahului gempa bumi. 

Dahulu, kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra) luluh lantak oleh amukannya sehingga Raja Mpu Sendok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Candi Borobudur dan Candi Prambanan puncak karya budaya pada masa itu pun terkubur abu dan pasir selama ratusan tahun.

Ketika kerajaan Mataram Baru (Islam) didirikan oleh Panembahan Senopati, keberadaan Merapi pun terasa penting. Kosmologi kejawen yang dibangun Panembahan Senopati mengakomodasi dunia gaib penguasa Gunung Merapi dan penguasa Laut Selatan. 

Mataram Islam yang berada di dataran subur antara Gunung Merapi dan Laut Selatan mendapat dukungan Ratu Kidul, penguasa laut selatan dan Syeh Jumadil Qubro, penguasa gunung Merapi.

Awan panas Merapi yang pada 26 Oktober lalu datang pada waktu magrib mengingatkan orang pada kategori waktu masyarakat Jawa: candhik olo, sepenggal waktu transisi siang ke malam yang ”berbahaya”. 

Pada waktu candhik olo anak-anak kecil harus berhenti bermain dan pulang ke rumah, orang yang sedang bekerja harus berhenti, orang yang memanjat pohon harus turun, orang yang dalam perjalanan harus berhenti, dan tidak boleh tidur. Ini untuk menghindari malapetaka yang bisa menimpa manusia.

Harta Pusaka

Dalam perspektif ethno-ecology masyarakat lereng Merapi memiliki kearifan lokal (local wisdom) dalam memprediksi bencana yang bisa datang. Lahar adalah kategori bahwa Merapi beraktivitas seperti sehari-hari dan kondisi aman. 

Wedhus gembel adalah kategori bahaya tahap awal. Wedhus gembel adalah awan panas bercampur abu, pasir, dan kerikil panas yang bisa menghanguskan dan membakar apa saja yang dia lewati. Awan panas ini jika dilihat dari jauh maka bentuknya seperti bulu kambing (wedhus) gembel .

Njebluk (meletus) adalah kategori bahaya tahap lanjut, kondisi sangat kritis sehingga semua harus mengungsi. Fase njebluk ini dalam rentang waktu yang lama, belum tentu dalam seumur hidup orang bisa mengalami fase Merapi njebluk ini, yakni sewaktu Merapi memuntahkan isi perutnya secara eksplosif.

Dua hari setelah erupsi Merapi ternyata sebagian masyarakat telah kembali menengok rumah dan harta bendanya. Masyarakat pun kembali enggan untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman menurut pemerintah. 

Masyarakat tidak mau direlokasi atau ikut transmigrasi karena memiliki pemahaman bahwa pertama; tanah warisan orang tua adalah harta pusaka yang harus dilindungi dan dipelihara. Falsafah ini terungkap dalam kalimat sadumuk bathuk senyari bumi tak bela nganti mati (bahwa tanah adalah simbol harga diri, harus dipertahankan walau sampai mati sekalipun).

Kedua; orang Jawa sangat terikat oleh relasi terhadap makam nenek moyang. Secara periodik orang Jawa mengunjungi, merawat , dan nyekar makam orang tua dan leluhur. Ini adalah tanda bakti mereka pada leluhur. Mengunjungi makam leluhur juga mengukuhkan keberadaan mereka sebagai orang Jawa. Jika orang Jawa tidak tahu atau tidak memiliki makam leluhur, maka hidup mereka menjadi hampa makna.

Masyarakat lereng Merapi sedang terluka karena kehilangan sanak saudara dan harta benda. Pemerintah jangan membuat luka kedua dengan mewacanakan, apalagi memaksa, masyarakat direlokasi atau ditransmigrasikan. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat harus diperhatikan. (*)

Nugroho Trisnu Brata MHum
Dosen di Jurusan Sosiologi dan Antropologi
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang
Mahasiswa program S3 Antropologi UGM 


source: http://www.tribunnews.com/2010/11/11/merapi-pernah-ratusan-tahun-mengubur-borobudur

CURHATAN SANG CALON GURU UNTUK BULAN PENDIDIKAN NASIONAL

UJIAN NASIONAL : MOMOK BAGI SISWA YANG TAK KUNJUNG MUSNAH
Oleh : Sae Panggalih
Mahasiswa Jurusan Sosiologi dan Antropologi UNNES

A.     Problematika Pelaksanaan Ujian Nasional di Tanah Garuda


Berbicara mengenai pelaksanaan ujian nasional di tingkat sekolah dasar hingga menengah, mungkin merupakan suatu hal yang membuat perasaan siswa menjadi was-was dan khawatir dikarenakan di dalam Ujian nasional siswa hanya diberikan dua pilihan untuk LULUS atau TIDAK LULUS , Pilihan tersebutlah yang pada akhirnya membuat kebanyakan siswa di Indonesia mengalami depresi berat hingga terkadang berujung pada tindakan bunuh diri, Fenomena miris ini terjadi dikarenakan, mayoritas siswa di Indonesia masih berpikir bahwa Ujian nasional merupakan salah satu kunci kesuksesan yang harus di pegang guna menentukan nasib mereka di masa depan kelak, Jikalau salah satu kunci terpenting berupa kelulusan ini tak berhasil digapai, niscahya masa depan merekapun akan sulit diprediksi dikarenakan di tahap awal saja mereka sudah mengalami kegagalan berupa pernyataan tidak lulus di dalam menempuh ujian nasional .
Dalam pelaksanaan Ujian Nasional, ternyata beban psikologis yang dirasakan bukan hanya dipikul oleh siswa seorang , melainkan pihak lain seperti orang tua para siswa-pun ikut andil bagian didalam menanggung pikulan perasaan malu di masyarakat jikalau suatu hari nanti anaknya dinyatakan tidak lulus didalam menempuh ujian nasional . Kondisi ini, semakin diperparah dengan kekhawatiran dari pihak sekolah yang mencemaskan apabila suatu saat nanti, nama baik almamater sekolah yang selalu dijaga kebaikannya bisa hancur lebur dalam waktu sesaat, dikarenakan pada saat pengumuman kelulusan UN , banyak siswanya yang dinyatakan tidak lulus menempuh Ujian Nasional . Hal inilah, yang pada akhirnya memancing beberapa bentuk tindakan nakal dari segelintir oknum guru yang menurut Saya tidak terdidik, untuk melakukan tindak kecurangan berupa aksi pembocoran soal dan pemberian kunci jawaban kepada para siswanya disaat pelaksanaan agenda akbar ujian nasional. Menurut Saya pribadi, Ujian Nasional dalam sistem pendidikan Indonesia tak ubahnya seperti monster tangguh yang dilawan dengan konspirasi siswa-guru . Alangkah gawatnya negeri ini, apabila generasi mudanya di pupuk dengan nilai-nilai korup berupa tindakan mencari kunci jawaban soal yang dalam prakteknya dapat menghancurkan budaya jujur dan  sportivitas yang selama ini selalu digaungkan disetiap kali pelaksanaan UN. Jika melihat fakta tersebut, pada akhirnya Ujian Nasional justru lebih terlihat sebagai ajang penghalalan segala bentuk tindak kecurangan  “yang mahal” dari tingkat elit hingga tingkat bawah ketimbang ajang untuk unjuk kejujuran dalam pelaksanaan UN .
Dalam buku ” Buku Hitam Ujian Nasional ” karya HB Arifin , tertulis sebuah pernyataan jelas yang mengungkapkan bahwa dengan sistem Ujian Nasional , sebenarnya pemerintah hanya menerapkan pemahaman yang sempit terhadap asseessment ( Penilaian terhadap siswa ) . Selama ini, pemerintah masih beranggapan bahwa perolehan Asseessment hanya dapat diperoleh melalui pelaksanaan ujian belaka . Bahkan seakan-akan negara kita lupa dengan wasiat Ki Hajar Dewantara: “Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Pernyataan tersebut berarti bahwa para siswa belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, tetapi sebaliknya mereka belajar hanya untuk mendapatkan nilai-nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau untuk mendapatkan predikat lulus didalam ijazahnya . Jika memang tujuan yang dikejar dalam pelaksanaan UN hanyalah perolehan nilai-nilai belaka yang tertulis dalam selembar kertas batik berlambang garuda pancasila, maka bersiap-siaplah menyongsong kebobrokan moral bangsa Indonesia , dikarenakan mayoritas generasi muda yang dicetak dan dipersiapkan untuk masa depan Indonesia di masa mendatang sudah terserang penyakit examen cultus dan diploma jacht (mengkultuskan ijasah dan diploma )” di dalam hidupnya .
  Dengan adanya sistem UN , Negara kita tidaklah semakin maju tingkat pendidikannya. Justru Pendidikan kita malah semakin ketinggalan jauh dengan negara lain. Berbeda jauh dengan sistem pendidikan di Indonesia pada beberapa dekade sebelumnya yang tanpa UN justru bisa memasuki jajaran kategori sepuluh besar negara yang baik didalam memberikan pelayanan pendidikan yang baik untuk warga negaranya , dan pada saat itu, banyak negara lain yang belajar ke Indonesia tentang pelaksanaan sistem pendidikan yang ramah terhadap siswa tersebut. Tetapi kini semua kenangan tentang kejayaan sitem pendidikan Indonesia yang ramah terhadap siswa tersebut telah berlalu bersamaan dengan keputusan diselenggarakannya Ujian nasional sebagai penentu kelulusan siswa sejak tahun 2004 oleh Bapak Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden Republik Indonesia waktu itu . Dengan pelaksanaan UN, Sebenarnya yang menjadi titik berat penilaian hanyalah berupa pengukuran nilai akademik ( kuantitatif ) semata dari tiap siswa , tanpa mempertimbangkan dan mengetahui bobot nilai sosial dan nilai karakter anak didik , Sedangkan guru selaku pihak yang mengetahui nilai akademik, nilai karakter dan sosial anak terkesan diabaikan dan tidak diberi kepercayaan oleh negara untuk memberikan penilaian terhadap siswa yang diajarnya setiap hari . Jadi artinya, perolehan nilai UN yang baik tidak bisa menjamin negara ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Karena baiknya suatu negara dapat dinilai dari baiknya karakter dan kepribadian generasi muda selaku penerus tongkat estafet pembangunan bangsa .

B.     Dampak UN : Nihilisasi Budaya Belajar Siswa 


Dalam Antropologi pendidikan , pola budaya belajar masyarakat ( pedesaan dan perkotaan) yang dapat menciptakan perubahan sosial menjadi salah satu topik kajian terpenting yang selalu dibahas dalam spesialisasai ilmu antropologi yang satu ini . Demikian juga mengenai perwujudan kebudayaan para pengambil kebijakan pendidikan yang berorientasi pada perubahan sosial budaya masyarakat . Tetapi dengan diadakannya sistem ujian nasional, pola budaya belajar yang sesuai dengan kharakteristik masyarakat di tiap daerah seakan-akan menjadi disamaratakan tanpa memandang perbedaan infrastruktur pendidikan yang ada di setiap provinsi. Akibatnya, fenomena bingung tahunan didalam menghadapi UN terulang lagi, akhirnya kebingungan itu menemukan solusinya melalui bisnis bimbingan belajar menjamur dari Sabang sampai Merauke dengan menjual jaminan lulus kepada para Siswa , Tidak sedikit sekolah menyambut dengan tangan terbuka bagi penjual jasa bimbingan belajar. Demi lulus UN, peran bimbingan belajar menjadi dibutuhkan oleh sekolah, siswa, dan guru.
Alhasil, gaya belajar yang sama berupa metode drill soal dan try out berjangkit dan dianggap cocok dalam menghadapi UN. Diyakini, hanya dengan cara itulah siswa-siswi kelas IX (SMP) dan XII (SMA) yang tersebar di seluruh penjuru negeri akan terlatih menjawab soal UN secara cepat dan tepat.
Kisah di atas menunjukkan bahwa ada kesenjangan yang tegas antara UN yang diidealkan oleh pembuat kebijakan pendidikan dan UN yang ada pada tingkat pelaksanaannya di lapangan atau sekolah-sekolah. Apa yang diharapakan dari kebijakan UN (das sollen) berbeda dengan realitas yang terjadi (das sein).


UN sebagai kebijakan pendidikan barangkali diharapkan oleh pemerintah, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla , bisa mendongkrak kinerja dan mutu pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Tetapi ternyata, didalam penerapannya, mutu yang ingin dicapai dari pelaksanaan UN justru sulit untuk dicapai , dikarenakan merebaknya masalah ketidakmerataan keadilan pemberian fasilitas pendidikan antar sekolah di seluruh Indonesia . Dalam pelaksanaan UN , Pemerintah seolah buta atau bersikap seolah tidak tahu terkait banyaknya sekolah di negeri ini yang belum layak dalam berbagai hal. Sekolah-sekolah yang berada di perkotaan dengan fasilitas lengkap dan memadai, pasti tak bisa disamakan dengan sekolah-sekolah di pelosok negeri yang serba kekurangan; guru dan fasilitas pendukung untuk mengajar belajar. Sekolah-sekolah di wilayah perkotaan dengan gedung beton, minimal dari bahan yang bagus, pasti berbeda dengan bangunan sekolah di pelosok yang beralas tanah, beratap daun, berdinding bahan bangunan apkir. Kemudian ditambah dengan guru-guru pengajar yang terbatas, lalu buku-buku pelajaran yang juga sama terbatasnya; dalam hal penerapan UN antara sekolah mentereng dengan fasilitas serba lengkap dipersamakan dengan sekolah yang sedikit lebih bagus dari kandang sapi atau kambing; adalah bukan suatu keadilan. Tetapi fenomena ketidakadilan pendidikan diatas , justru dijawab pemerintah dengan solusi konyol berupa pelaksanaan UN yang memiliki keseragaman tipe soal yang sama dan tak pandang bulu ( Pokoknya...Mau Anda tinggal di kawasan Hutan terpencil maupun di kawasan Hutan beton , semuanya harus mengerjakan soal UN dengan bobot kesulitan yang sama...untuk masalah lulus dan tidak lulus itu semua ada ditangan Anda...  ) . Kita pasti ingat dan hapal dengan bunyi Sila Kelima dari Pancasila; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau pendidikan dimasukkan kedalam berkeadilan sosial, maka negeri ini sudah tak berlaku adil terhadap pendidikan anak bangsa ini. Maka UN selayaknya dihapus untuk digantikan dengan ujian yang diterapkan oleh masing-masing daerah.
Dari topik pembahasan diatas, Saya dapat menyimpulkan bahwa ternyata pelaksanaan UN tak memacu budaya belajar, tetapi justru memicu tindak kecurangan dan cara belajar ala bimbingan belajar. Kecurangan dan cara belajar ala bimbingan belajar seolah menegaskan lagi pendapat (alm) Koentjaraningrat tentang mentalitas menerabas dan budaya instan bangsa ini. Kecurangan dalam UN terasa sekali menunjukkan mentalitas menerabas, sikap menghalalkan segala cara demi tujuan lulus dan sukses UN. Adapun cara belajar dengan drill soal, try out, menghafal soal, dan trik-trik mengerjakan soal obyektif menunjukkan sikap instan dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Cara belajar ini tidak menuntut eksplorasi cipta, rasa, dan karsa anak didik terhadap substansi kompetensi ilmu pengetahuan. Implikasinya, kompetensi dan kecerdasan dalam menguasai ilmu pengetahuan hanya diukur dari kemampuan memilih jawaban secara cepat dan tepat untuk mendapatkan skor tertinggi. UN alih-alih sebagai kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan justru telah menihilisasi budaya belajar.
Sebenarnya, Budaya belajar akan menjadi pilar pengembangan kebudayaan yang kuat dan beradab. Sayang sekali, hadirnya UN belum mampu menjadikan budaya itu sebagai budaya dominan di kalangan pelajar Indonesia. Budaya belajar dikalahkan oleh nihilisasi budaya belajar: menerabas dan instan. Nihilisasi budaya belajar itu akhirnya memunculkan kekhawatiran ” akan kuatkah kebudayaan Indonesia bersanding dengan budaya global di masa depan ? ” Sebab, menurut Naisbitt, hanya suku bangsa yang memiliki kebudayaan yang kuat dan luwes yang bisa bertahan di tengah konstelasi global.

C.     Solusi terhadap carut-marutnya pelaksanaan UN


Berbeda dengan Pemerintah Indonesia yang lebih menekankan assesment pada ujian, Negara Finlandia justru menekankan assessment melalui metode proyek terhadap siswanya. Proyek bisa berupa karya siswa, baik penelitian, merancang sebuah desain, dan sebagainya, yang bisa dikerjakan bersama-sama dalam satu tim dan lintas bidang studi. Untuk menjalankan proyek-proyek tersebut, siswa harus mampu mengaplikasikan semua yang dipelajarinya di sekolah di dalam sebuah karya nyata. Ada begitu banyak variasi bentuk assessment termasuk tugas harian di sekolah, karya siswa, penelitian ilmiah, tulisan, proyek, laporan, dan sebagainya. Semuanya bisa digunakan untuk menilai siswa.
Assessment terhadap siswa sudah seharusnya tidak didominasi oleh ujian, apalagi untuk menentukan kelulusan. Maka, bisa dikatakan, banyak yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pertama, harus ada evaluasi sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Pemetaan pendidikan nasional harus segera dilakukan dan hasilnya harus dipublikasikan di depan publik sehaingga berbagai pihak bisa membantu menganalisanya. Hasil analisa ini bisa digunakan sebagai dasar untuk merancang berbagai program peningkatan kualitas pendidikan. Sistemlah yang perlu dievaluasi terlebih dahulu, sebelum mengevaluasi siswa. Kedua, assessment terhadap siswa harus digunakan sedemikian rupa untuk memberikan dukungan siswa dalam belajar, membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Sistem pendidikan bukan untuk melabeli mereka dengan kata lulus atau tidak lulus. Ketiga, kita memang harus mulai meninggalkan paradigma belajar yang menekankan pada ujian. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara pada topik sebelumnya, yang mengatakan kepada kita sebagai generasi penerus saat ini dan nanti, bahwa, "Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau untuk dapat ijazah. Jikalau memang itu yang terjadi, maka memang sudah selayaknya Momok Ujian Nasional memang harus musnah dari negeri ini dan digantikan oleh sistem penentuan kelulusan model lain yang tentunya harus ramah terhadap seluruh warga belajar .
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, HB. 2012. Buku Hitam Ujian Nasional . Yogyakarta : Resis Book dan CBE Publishing .
Ali , Marzukie . Ujian Nasional dan Permasalahan Pendidikan Kita. www.marzukialie.com ( Diakses pada : 28 April 2014 )

Chatif, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia . Bandung : PT Mizan Pustaka .  
Martono, Nanang. 2010. Pendidikan Bukan Tanpa Masalah : “ Mengungkap Problematika Pendidikan dari Perspektif Sosiologi “ . Yogyakarta : Gava Media .
Mutiarasari, Dian. Makalah Antropologi Pendidikan. www.dian-mutiarasari.blogspot.com   ( Diakses pada : 28 April 2014 )
Nasution. 1995. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara             
Partaonan, Shaleh. Mengapa Ujian Nasional Harus Dihapus ? . www.republika.co.id . ( Diakses pada : 28 April 2014 )
Tjandra, Tri. UN : Dilema dan Tantangan . website SMAN 1 Ksatrian Semarang ( Diakses pada : 28 April 2014 )