Thursday, November 28, 2013

BATIK KHAS KECAMATAN GUNUNG PATI

Tahukah Anda jika setiap kecamatan di Semarang memiliki Kampung Batik Sendiri-sendiri yang motifnya disesuaikan dengan kekhasan atau potensi unggulan di setiap kecamatannya masing-masing....Salah satu diantaranya adalah Kampung Batik Semarangan di Desa Malon Gunung Pati yang sudah tersohor se kecamatan Gungung Pati......dan beberapa motif batik di bawah ini merupakan salah satu pengembangan motif batik Semarangan ala Kecamatan Gunung Pati yang diciptakan oleh Salma Batik : 


Motif Kewan Gunung Pati


Motif Godhongan 


Motif Goa Kreo


Motif Batik Tulis Duren Ace 


Motif Iwak  Ngembang


Motif Batik CapTugu Muda Kiteran Sulur


Motif Batik Cap Ngombak Marina



Motif batik cap Duren ace


Motif batik tulis asem kuntul 


Motif batik Tugu muda


Motif batik wayangan


Foto pemilik usaha Salma Batik dengan Pak Bibit Waluyo dalam acara Dekranasda Provinsi Jateng 
( Gubernur Jateng periode lalu )  

Monday, November 25, 2013

MENANTI JATENG PARK 20XX


APAKAH BENAR-BENAR AKAN TEREALISASI ????
KITA TUNGGU SAJA TANGGAL MAINNYA  

DUKUNG FFI DI KOTA LUMPIA





BLOGGER GOJEG SEMARANGAN 

MENDUKUNG PAGELARAN ACARA FFI ( FESTIVAL FILM INDONESIA) PADA 6-7 DESEMBER 2013

DI KOTA SEMARANG ........

SEMOGA BISA MEMBAWA DAMPAK YANG BAIK BAGI PERKEMBANGAN PARIWISATA BUMI LUMPIA.....

OLEH-OLEH DARI TOUR GUIDE DI BALI

STRUKTUR DAN STRATIFIKASI MASYARAKAT DI BALI 



o       Bagaimanakah Struktur Sosial Masyarakat yang ada di Bali ?
( ajukan pertanyaan ini kepada tour guide di bis masing-masing agar diperoleh penjelasan langsung dari si Pemandu yang memang asli warga Bali dan paham tentang seluk-beluk kehidupan orang Bali )
Jawaban :
Menurut keterangan dari tour guide lokal di bis yang Saya tumpangi , menuturkan bahwa untuk struktur sosial masyarakat Bali diatur oleh sistem Lembaga Desa Adat ( atau yang lebih dikenal dengan sebutan Desa Pakraman ). Desa Pakraman sendiri adalah sebuah kesatuan dari sekumpulan orang , wilayah dan sistem sosial-budaya yang hidup bersama berasaskan pada pandangan hidup Tri Hita Karana, cara hidup ( adat istiadat, sistem kontrol ( hukuman adat atau yang dikenal dengan istilah awig-awig ), dan sistem kepercayaan ( agama) yang dimiliki oleh umat Hindu Bali .
Dalam prakteknya, Susunan desa Pakraman di Bali di bagi menjadi empat, yaitu :
o Wilayah desa Pakraman yang hanya terdiri dari satu  Banjar adat
o Satu desa Pakraman yang terdiri dari satu atau lebih banjar dinas
o Satu keperbekelan atau kelurahan yang terdiri dari beberapa Desa Pakraman
o Satu perbekel yang terdiri dari satu desa Pakraman .
Dari seluruh kategori desa Pakraman diatas , memiliki ideologi yang satu bernama Tri Hita Karana yang melandasi berlakunya hukum adat di Bali yang tentunya berbeda dengan hukum adat daerah lain. Sesuai definisinya, Tri Hita Karana sendiri memiliki arti Tiga penyebab kebahagiaan yang menjiwai sistem nilai yang ada di Bali, yang terdiri atas :
  1. filsafat keharmonisan antara hubungan manusia dengan Tuhannya ( Parhyangan), yang wujud fisiknya berupa Pura ( tempat suci) untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wase yang diwujudkan dalam dewa-dewa baik yang universal maupun dewa lokal.
  2. Hubungan manusia manusia dengan alamnya ( Palemahan) yang merujuk pada lingkungan atau wilayah lokalitas tempat desa Pakraman itu berada dengan batas-batasnya yang jelas, Desa memiliki palemahan untuk penempatan bangunan suci, perumahan warga desa, sawah dan perkebunan yang diatur secara tertib oleh hukum adat agar tidak menimbulkan konflik antar warga .
  3. Hubungan manusia dengan manusia lainnya ( Pawongan ) yang merujuk pada interaksi sosial yang dilakukan oleh umat Hindu Bali dengan masyarakat atau orang  lain di lingkungan sekitar tempat tinggalnya .

Melihat kenyataan diatas, kita dapat mengetahui bahwa Ideologi Tri Hita Karana pada dasaranya adalah suatu sistem panutan yang dijadikan pedoman oleh masyarakat Bali untuk menjalani hidup yang lebih teratur sesuai dengan ajaran Hindu .


o       Bagaimanakah Stratifikasi sosial masyarakat yang ada di Bali ?
( ajukan pertanyaan ini kepada tour guide di bis masing-masing agar diperoleh penjelasan langsung dari si Pemandu yang memang asli warga Bali dan paham tentang seluk-beluk kehidupan orang Bali )
Jawaban :
Menurut penuturan dari tour guide di bis Saya, untuk sistem stratifikasi di Bali dibagi ke dalam dua jenis yaitu yang berdasarkan wangsa dan yang kedua berdasarkan pada warna atau kasta . Untuk stratifikasi wangsa tidaklah bisa diubah berdasarkan kekayaan ataupun pekerjaan dikarenakan sudah garis keturunan yang menentukan seseorang untuk berada pada satu wangsa tertentu, untuk pembagiannya dibagi menjadi empat wangsa :
1.      Pertama, dikenal dengan wangsa Brahmana, yakni orang-orang yang tinggal di dalam istana dan merupakan keturunan dari para pemuka agama atau orang suci di Bali, biasanya nama orang yang berasal dari wangsa ini akan diawali dengan nama depan Ida ( Ida Bagus untuk yang pria dan Ida Ayu untuk yang wanita ) , ketika pemilik wangsa ini sudah beranjak dewasa dan mulai paham tentang konsep becik ala ( baik dan buruk ) , biasanya mereka akan langsung diangkat untuk menjadi Pedande atau pendeta suci umat Hindu yang bertugas memimpin berbagai macam upakara besar keagamaan yang rutin digelar setiap tahunnya .
2.      Kedua, dikenal dengan wangsa Ksatria , yakni orang-orang yang tinggal di lingkungan istana atau Puri dan merupakan keturunan dari keluarga Raja , biasanya nama orang yang berasal dari kasta ini akan diawali dengan nama depan Tjokorda, Anak Agung , dan dewa. Ketika sudah dewasa, biasanya mereka akan memiliki jabatan penting di dalam lingkungan kerajaan dan bila tiba saatnya akan menggantikan kedudukan raja yang lama .
3.      Ketiga, dikenal dengan wangsa Wesya , yakni orang-orang yang tinggal di lingkungan istana dan merupakan keturunan dari Maha Patih kerajaan , biasanya nama orang yang berasal dari kasta ini akan diawali dengan nama depan Gusti ( Gusti Bagus untuk anak laki-laki dan Gusti Ayu untuk nama wanita) . Dan ketika sudah dewasa, orang-orang yang berasal dari wangsa ini akan sangat berpeluang besar untuk menjadi mahapatih Raja melanjutkan jabatan mahapatih orang tuanya yang semisal sudah meninggal maupun sudah sakit-sakitan karena faktor usia .
4.      Keempat, dikenal dengan istilah Sudra, yakni merupakan wangsa untuk orang-orang yang tinggal diluar lingkungan istana atau yang biasa kita sebut dengan sebutan Rakyat Biasa , biasanya nama orang yang berasal dari wangsa ini tidak akan memiliki gelar, melainkan mereka hanya dberi nama menurut urutan kelahiran saja seperti; Wayan ( untuk anak pertama), Made ( untuk anak kedua), Nyoman ( untuk anak ketiga) dan Ketut ( untuk anak keempat). Dan Jika ada yg mempunyai lebih dari 4 orang anak namanya akan kembali lagi keurutan pertama (wayan), begitupun seterusnya. Hingga kini, orang-orang yang berada pada kasta ini merupakan penduduk mayoritas di Bali yang menggantungkan hidupnya dari sektor pekerjaan kasar, semisal menjadi buruh, nelayan, dan petani sawah serta perkebunan skala kecil .

Sedangkan, Sistem Kasta atau Warna di Bali disinyalir mulai diterapkan ketika masa pemerintahan penjajahan Belanda mulai memasuki Pulau Bali , istilah kasta sendiri berasal dari kata ” Kastu” yang artinya tingkatan yang ada dan melekat pada diri tiap orang berdasarkan pekerjaan mereka , Dalam sistem pelapisan masyarakatnya, sistem kasta memiliki beberapa kesamaan dengan sistem pelapisan masyarakat berdasar wangsa yakni sama-sama terdiri dari empat tingkatan kelas dan memiliki nama kelas yang sama , diantaranya :
1.   Kasta atau Warna Brahmana yang pekerjaannya sebagai Pemimpin, contoh nyatanya ada pada Gubernur Bali periode sekarang yakni Bapak I Made Mangku Pastika yang berasal dari wangsa Sudra, ketika Ia ada di rumah dan tidak memakai atribut kedinasan , tetangga di sekitar rumahnya akan berperilaku biasa saja dengan Pak Pastika dikarenakan dianggap memiliki tingkatan kasta yang sama dengan tetangganya, dan bahasa harian yang digunakan di lingkungan tempat tinggal akan lebih menjurus ke penggunaan bahasa Bali Ngasor ( tingkatan bahasa Bali Paling Bawah ) yang cenderung digunakan untuk bercengkrama dengan orang biasa . Tetapi ketika Pak Pastika sudah mengenakan atribut kedinasan, Kastanya secara otomatis akan berubah ke tingkatan Brahmana dikarenakan di lingkungan pemerintahan Ia akan berperan sebagai pemimpin yang harus mengayomi rakyat Bali, di waktu Ia berada pada level Brahmana, seluruh masyarakat dan tetangganya akan segan terhadap dirinya dan menghormati beliau karena Ia sekarang sedang berperan menjadi seorang Brahmana atau Seorang Pemimpin. Tidak terkecuali para bawahannya yang semisal bisa saja berasal dari golongan Ksatria, ketika berada di lingkungan pemerintahan mereka harus menghormati Pak Pastika karena memiliki status paling utama dalam tingkatan kasta Bali, tetapi ketika telah sampai di rumah bisa saja hal yang sebaliknya terjadi, yaitu justru Pak Pastika-lah yang akan berbalik menghormati bawahannya dikarenakan ketika sudah berada dilingkungan rumah, semua atribut kedinasannya telah di copot dan Ia kembali ke golongan wangsa Sudra yang kedudukannya lebih rendah dari wangsa Ksatria .
2.      Kasta atau Warna Ksatria yang pekerjaannya berada di sektor Pemerintahan tetapi memiliki jabatan di bawah Pemimpin ( atasan) atau yang biasa kita kenal dengan pegawai biasa atau pegawai rendahan , Semua orang di Bali memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk menduduki kasta ini di waktu-waktu tertentu saja atau dalam istilah lain biasa disebut ketika mereka masih berada di lingkungan kedinasan , diluar itu mereka akan kembali ke kastanya semula . Untuk menduduki kasta ini, biasanya orang-orang akan saling bersaing ketat di dalam memajukan ilmu pengetahuannya agar bisa berpeluang besar untuk menduduki kasta yang satu ini . Contohnya, Semisal Suatu hari Pak Komang yang berasal dari kasta Sudra ingin menduduki jabatan sebagai Pegawai negeri di Dinas Pariwisata Kabupaten Ubud, untuk mendapatkan jabatan itu Ia harus bersaing dengan ratusan kompetitor lain yang ingin menduduki jabatan yang sama, Hingga di waktu hari pengumuman penerimaan pegawai, ternyata nama Pak Komang dinyatakan lolos dan memenuhi standar kriteria menjadi pegawai di Dinas Pariwisata Kabupaten Ubud. Setelah dinyatakan lolos, pada hari itu juga secara otomatis status kasta Pak Komang yang berasal dari golongan Sudra kini sudah meningkat ke golongan Ksatria dikarenakan usahanya yang gigih untuk memperoleh jabatan sebagai pegawai di dinas pariwisata yang derajatnya disamakan dengan Kasta Ksatria .  
3.      Kasta atau Warna Waisya yang pekerjaannya berada di sektor perdagangan dan jasa, untuk memperoleh kasta ini, semua orang dari berbagai golongan wangsa memiliki peluang yang sama untuk bertengger pada kategori kasta yang satu ini, Semisal suatu hari Pak Nengah yang berasal dari wangsa Sudra berkeinginan untuk menjadi pedagang yang sukses dikarenakan Ia sudah bosan hidup menjadi petani miskin yang hidup susah dan melarat , untuk mewujudkan mimpinya itu Pak Nengah bekerjasama dengan salah seorang Pengrajin Perak asal desa Celug untuk membuka cabang usaha di daerah tempat tinggal Pak Nengah yang sangat berpotensi besar untuk menjual berbagai jenis cenderamata berbahan dasar perak dikarenakan banyak turis yang selalu datang ke desanya tetapi belum ada satupun Sentra Penjual Oleh-oleh disana. Ternyata setelah idenya tersebut ditawarkan, si Pengrajin perak dari Celug tersebut tertarik dengan usulan Pak Nengah dan memutuskan untuk membuka cabang cenderamata perak dibekas lahan sawah Pak Nengah yang kini sudah berubah fungsinya sebagai Toko Art Gallery perhiasan Perak. Ternyata setelah diresmikan, Banyak turis lokal dan asing yang mampir ke Toko Art Gallery Perak milik Pak Nengah untuk membeli oleh-oleh perhiasan untuk keluarganya di daerah atau negara lain. Sekarang ,Karena usahanya yang gigih, kehidupan Pak Nengah yang berasal dari wangsa sudra bisa dikatakan sudah jauh lebih membaik dikarenakan Ia telah mengalami peningkatan kasta , ke dalam golongan kasta waisya melalui usaha perdagangan cenderamata perhiasan  perak yang sukses .
4.      Kasta atau warna Sudra yang pekerjaannya berada di sektor pekerja kasar semacam buruh harian dan petani skala kecil , untuk memperoleh kasta ini, semua orang dari berbagai golongan wangsa memiliki peluang yang sama untuk bertengger pada kategori kasta yang satu ini, tidak terkecuali mereka yang berasal dari golongan wangsa kelas atas . Semisal suatu hari Pak I Gusti Bagus Wedyatama yang berasal dari wangsa Wesya mengalami masalah yang besar dalam hidupnya akibat uang warisan yang Ia dapatkan dari Ayahnya, habis total dikarenakan untuk membayari gaji ratusan karyawan di pabrik tekstilnya yang terpaksa di PHK akibat peristiwa krisis moneter 1998,  Setelah peristiwa itu terjadi, kehidupan keluarga Pak Bagus berubah secara drastis akibat kini keluarganya sudah jatuh miskin dikarenakan kebangkrutan usaha tekstilnya, untuk menyambung hidup keluarga, Pak Bagus rela bekerja sebagai petani skala kecil yang bertugas membajak sawah guna mendapatkan upah harian yang bisa Ia manfaatkan untuk memberi makan kedua anaknya dan seorang istrinya yang kini juga telah hidup sengsara walaupun mereka masih berstatus sebagai wangsa Wesya . Jika dilihat dari fenomena yang dialami pak Bagus , kita dapat memetik kesimpulan bahwa profesi atau kasta yang dimiliki pak bagus telah berubah dari yang tadinya berprofesi sebagai pengusaha tekstil sukses ( kasta Wesya) berubah menjadi seorang petani miskin akibat mengalami kebangkrutan ( Kasta Sudra ), tetapi untuk hal status wangsa, wangsa keluarga Pak Bags tetap bertengger di wangsa keluarga Ksatria dikarenakan garis keturunanlah yang menakdirkan demikian.  

NB :

  • Stratifikasi berdasarkan Wangsa : tidak bisa diubah berdasarkan pekerjaan dan kekayaan dikarenakan sudah ditentukan berdasarkan garis keturunan keluarganya.
  • Stratifikasi berdasarkan kasta : bisa berubah berdasarkan pekerjaannya dan bisa terjadi perubahan pada semua kelas wangsa yang ada.  

Sartono Nasibmu Kini

NASIB PENCIPTA HYMNE GURU KINI.......

Sumber : okezone.com 

Sartono (Istimewa)
Sartono (Istimewa)
MADIUN - Meski lagu Hymne Guru kerap dinyanyikan para siswa, namun sang pencipta, Sartono, hingga kini tidak pernah mendapat hasil atau royalti. Kondisi kesehatannya pun semakin memprihatinkan.


Pria yang tahun ini menginjak usia 76 tahun itu sudah tidak bisa lagi diajak berkomunikasi. Warga Jalan Halmahera, Kota Madiun, Jawa Timur, itu juga sudah lupa dengan lagu yang pernah diciptakan untuk mengenang para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.


Kondisi ini jauh berbeda dibanding setahun Mei tahun lalu. Kala itu, saat disambangi ke rumahnya, jari tangan Sartono masih lincah “menari” di atas tuts piano, membawakan Hymne Guru.


Pria yang menciptakan Hymne Guru pada 1980 itu kini sudah bisa dibilang pikun. Untuk menghadapi tamu yang datang, apalagi menjawab pertanyaan, dia harus dibantu istri tercintanya, Damiati.


Damiati mengakui kondisi suaminya sudah tidak seenerjik dulu lagi. “Sudah tidak bias lagi bermain piano atau bernyanyi karena faktor usia. Di samping itu, ada rasa kecewa yang disimpan Bapak dalam hati. Seolah perjuangan dan karyanya tidak dihargai pemerintah. Tapi kami tetap bersyukur masih bisa seperti ini,” tutur Damiati di rumahnya, Rabu (2/5/2012).


Meski tak pernah mendapat royalti atas lagu ciptaannya, keluarga tetap bersyukur. Beragam penghargaan dari pejabat, setidaknya bisa menghiasi dinding di ruang tamu rumahnya. Piagam itu menemani piano usang, pemberian seorang dermawan.



SELAMAT HARI GURU NASIONAL UNTUK SEMUA GURU DI INDONESIA



Sumber : sidomi.com

Tepat tanggal 25 November setiap tahunnya, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional, yang juga adalah hari lahirnya organisasi guru yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Namun tahukah Anda asal usul mengapa tanggal tersebut dipilih menjadi hari yang khusus bagi para pahlawan tanpa tanda jasa?
Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, para pegiat pendidikan di nusantara telah mendirikan organisasi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912. Anggotanya merupakan kalangan Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah yang bekerja di sekolah-sekolah yang ada di tanah air.
Kemudian, kuatnya keinginan untuk merdeka dan mendirikan negara sendiri yang bernama Indonesia membuat pengurus dan anggota PGHB mengubah nama organisasi mereka menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) di tahun 1932.
Usai kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pengurus dan anggota PGI menyelenggarakan Kongres Guru Indonesia yaitu tepat di 100 hari setelah tanggal kemerdekaan tersebut, 24 -25 November 1945. Kongres yang berlangsung di Kota Surakarta tersebut diadakan untuk mengikrarkan dukungan para guru untuk NKRI. Saat itu, nama organisasi PGI pun diperbarui menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Dilansir oleh situs resmi PGRI, karena jasa dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru di tanah air, maka Pemerintah RI melalui Kepres No 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.
Keppres itu juga dimantapkan di UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional, yang kerap diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.

Pic: Bandungoke.com

Saturday, November 23, 2013

HARMONI NEGERI DALAM ACARA SADRANAN DAN SEDEKAH BUMI ( RITUAL SADRAN MANDUNG TAHAP 2 )

Jika pada posting beberapa minggu yang lalu , Saya sempat membahas ritual Sadran Mandung untuk menyambut Bulan Suro, untuk kesempatan kali ini , Saya akan menjelaskan hasil rekaman video yang saya ambil ketika mengikuti tradisi Sadran Mandung dan ritual sedekah bumi pada hari Jum'at tanggal 22 November 2013 tepatnya pukul 07.00-11.00 siang 

Pagi itu, di hari Jumat yang cerah, ketika Saya hendak keluar rumah untuk membeli sarapan pagi, terdengar bunyi khas musik terbangan dan tabuhan genderang barongsai di dekat SD Susukan yang hanya berjarak 200 meter saja dari rumah Saya.....setelah mendengarnya, Rasa penasaran Saya semakin menjadi-jadi dan saya memutuskan untuk menuju ke sumber suara dan mengurungkan niat Saya untuk membeli sarapan semangkok bubur ayam hangat di dekat alun-alun Ungaran.........
Hingga sampa akhirnya...Saya tiba di lokasi sumber suara dan benar saja ternyata sedang ada arak-arakan pawai sedekah bumi menuju ke makam Ki Mandung yang terletak di kawasan perbukitan Gunung Kalong....sebelum itu saya akan menjelaskan sebentar tentang prosesi Sadran Mandung yang memang digelar selama dua kali selama bulan Suro..yakni yang pertama kemarin dilaksanakan pada tanggal 1 November (awal bulan Suro dalam kalender Jawa) dan ritual yang kedua ini digelar pada hari Jumat ( 22 November 2013 )........Acara ini diadakan untuk  mengucapkan rasa syukur terhadap Tuhan atas rejeki yang telah diberikan selama setahun terakhir melalui simbolisasi tumpeng sedekah bumi yang diarak....Selain itu , acara ini juga diadakan untuk mengingat jasa Ki Mandung selaku Sesepuh Desa Susukan yang telah berjasa membangun desa ini ............

prosesi Arak-arakan diawali dengan kirab yang dilakukan oleh grup terbangan yang menaiki mobil pick-up bak terbuka yang berisi kelompok bapak-bapak penerbang , kemudian di barisan kedua diikuti oleh barisan beberapa orang warga pria dan wanita yang mengenakan pakaian jawa  tradisional, kemudian di barisan ketiga diikuti oleh kelompok arak-arakan dua buah kembang manggar besar yang dibawa oleh 2 orang siswa laki-laki Mts Miftafhul Ulum ( MU ) yang diiringi dengan tabuhan musik marching-band Mts ini, di barisan keempat diikuti oleh barisan arak-arakan tumpeng sedekah bumi yang diawali dengan barisan tumpeng berisi lauk-pauk dan nasi, diikuti barisan tumpeng Buah segar, dan diakhiri dengan arakan tumpeng sayur-mayur..........dibelakang arak-arakan tumpeng, masih dimeriahkan dengan kesenian tari Barongsai dan tabuhan genderang dan simbal khas Tionghoa sumbangan dari wihara Avalokitesvara Gunung Kalong yang turut andil bagian dalam acara sedekah bumi di setiap tahunnya......di barisan akhir arak-arakan diakhiri dengan barisan bapak-bapak dan ibu-ibu yang membawa lauk-pauk dan nasi hangat dengan cara digendong menyamping mengggunakan kain batik.......sungguh menarik dan Indonesia Banget.........   



Naik-naik ke gunung Kalong.....untuk ikut Sadranan...kiri-kanan kulihat saja..banyak pathok kuburan..ha..haa...

Arak-arakan diwali atau mengambil garis start kirab dari SDN Susukan menuju ke makam Ki Mandung yang berada di Bukit Kalong yang letaknya bersebelahan dengan Wihara Avalokitesvara.....

Arak-arakan menunjukkan perpaduan yang apik antara budaya Jawa, Islam, dan Tionghoa yang dikemas menjadi satu dalam acara Sadranan dan sedekah Bumi Desa Susukan.....



Setelah tiba di atas perbukitan Gunung Kalong, warga melakukan acara doa bersama dimakam masing-masing anggota keluarga yang telah meninggal dan setelah itu diakhiri dengan acara santap hidangan bersama di area makam ..........Nikmat bukan.........................Dalam acara ini warga diperkenankan untuk saling bertukar makanan dengan warga lain untuk menciptakan rasa keakraban yang intim antar sesama warga desa....


Sabar kang...ojo grusa-grusu...kabeh kumanan tumpenge kok.....ojo do gencet-gencetan..ndak do semaput...

Mberesi panganan turahan sadran nda..lumayan iso nggo mangan awan..daripada dibuwak-buwak..ndak mubazir to yu.....


Acara santap bersama diakhiri dengan acara doa bersama di Makam Ki Mandung dan diakhiri dengan acara grebeg tumpeng sedekah bumi dan berebut kembang manggar yang dipercaya bisa membawa keberuntungan apabila dibawa pulang.........


Malam harinya, masih dalam satu rangkaian acara yang sama, diadakanlah pasar rakyat yang menyajikan pertunjukkan kethoprak dan wayangan yang bertujuan untuk mengusir hawa negatif di seluruh penjuru desa......


BEGITULAH RANGKAIAN ACARA SADRANAN DAN SEDEKAH BUMI DI DESA SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG..

ITULAH SEPENGGAL KISAH  TENTANG JAWA TENGAHKU.....LALU MANA CERITA TENTANG JAWA TENGAHMU?




Tuesday, November 12, 2013

NGURI-NGURI RITUAL SURONAN UNGARAN

NGURI-NGURI TRADISI SURONAN DI DESA MUNENG DAN DESA SUSUKAN ( KECAMATAN UNGARAN TIMUR ) KABUPATEN SEMARANG

Kecamatan Ungaran Timur bisa dikatakan sebagai salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang yang sudah di masuki unsur-unsur modernitas dalam kehidupan warganya. Namun walaupun begitu, pelestarian akar kebudayaan lokal yang telah menjadi warisan adiluhung dari para leluhur, masih dipertahankan dan diuri-uri oleh mayoritas warga di kecamatan ini, Dan salah satu wujud cinta warga terhadap kebudayaan lokal tersebut dapat terwujud dalam pelaksanaan beberapa prosesi tradisi budaya lokal di dalam menyambut tahun baru Islam 1435 Hijriah .
Dari berbagai macam prosesi yang ada pada setiap desa di kecamatan Ungaran Timur ,  kali ini penulis akan memfokuskan pada acara penyambutan tahun baru Islam yang bebarengan dengan perayaan tahun baru Jawa ( suro) di Desa Susukan dan Desa Muneng yang masih terletak pada satu kecamatan yang sama ( Ungaran Timur) , dan prosesi tradisi budaya lokal tersebut diantaranya :

o       Tradisi Lempar Ketupat ( Ritual Suronan Khas Desa Muneng )
Di Desa Muneng yang terletak di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Ungaran Timur mempunyai suatu tradisi lokal yang unik berupa “ tradisi lempar ketupat” di dalam menyambut tahun baru Jawa 1 Suro yang berbarengan pula dengan perayaan tahun baru 1 Muharram dalam kalender penanggalan Islam. 
 Acara tersebut diawali ketika bunyi suara tiang listrik di seluruh penjuru desa Muneng dipukul secara bertalu-talu pada jam 18.00 , hal itu menandakan bahwa saatnya bagi ratusan warga desa, dari usia muda hingga orang tua, laki-laki dan perempuan untuk turun ke perempatan jalan Dusun Muneng dengan membawa kelengkapan acara berupa ketupat lengkap dan sayur- mayurnya masing-masing . 

Tradisi Unik Desa Sidomulya

Warga desa Muneng mulai berkumpul di perempatan jalan desa setelah bunyi suara tiang listrik usai diperdengarkan

Sebelum acara saling lempar ketupat dimulai, acara akan diawali dengan melantunkan azan secara bersama-sama yang dilakukan oleh 4 orang berbeda dengan menghadap ke empat penjuru arah mata angin yaitu utara, selatan, barat dan timur . Menurut Mbah Mahsun ( Muadzin di Kelurahan Sidomulyo ) mengatakan bahwa prosesi azan menghadap empat arah dan saling melempar ketupat itu merupakan suatu simbol agar segela hal yang membuat sial masyarakat tidak mendatangi desa tersebut selama setahun kedepan . 

Warga desa Muneng menyantap hidangan yang telah mereka bawa dari rumah secara bersama-sama dengan suasana yang kekeluargaan

Lalu, Setelah diawali dengan azan papat dan membacakan doa-doa untuk memohon keselamatan bagi seluruh penduduk Desa Muneng , semua warga diperbolehkan untuk menyantap hidangan ketupat dan sayur yang telah mereka bawa dari rumah secara bersama-sama dengan warga yang lain ( dalam prosesi santap malam ini, warga desa diperbolehkan untuk menukar atau membagikan makananannya kepada warga lain sebagai tanda ucapan syukur atas rejeki yang telah dilimpahkan kepada warga desa di tahun ini ). Menurut mbah Mahsun selaku modin ( muadzin) di Desa Muneng, acara santap malam diatas merupakan acara yang baru-baru saja digelar pada tahun 2010 kemarin, karena sebelum tahun 2010 , setelah warga berdoa , seluruh warga  langsung melempar ketupat dengan sayur-mayur yang mereka bawa dari rumah ke warga lain tanpa menyatapnya terlebih dahulu , Tetapi, hal itu kini dianggap sebagai aktivitas yang menyia-nyiakan makanan dan terkesan mubazir, sehingga mulai tahun 2010, warga desa diwajibkan untuk menyatap makanan yang telah dibawanya secara bersama-sama terlebih dahulu agar yang dilempar pada prosesi “ perang ketupat” nanti hanyalah berupa makanan sisa yang tidak disantap warga di acara makan bersama .


Warga Saling melempar Ketupat dan sayur mayur bawaannya sebagai tanda membuang sial dan dijauhkan dari bencana selama setahun kedepan

Setelah acara santap malam usai , puncak acara yang telah ditunggu-tunggu wargapun tiba, yaitu berupa acara perang ketupat yang disinyalir akan berlangsung seru di setiap tahunnya. Dalam prosesi ini , Semua warga  desa diperbolehkan untuk saling melempar ketupat  dan sisa makanan yang masih ada ke warga lain yang ada di lokasi perhelatan, sebagai tanda membuang sial dan menjauhkan bencana untuk seluruh warga Desa Muneng . Sebaliknya, apabila di suatu hari nanti tradisi perang ketupat ini tidak digelar, maka warga percaya akan terjadi bencana besar yang menimpa Desa Muneng .
Ketika puncak acara saling serang ketupat usai, warga pun saling bermaaf-maafan dan dilanjutkan dengan acara lek-lekan ( kumpul bersama dalam suasana guyub rukun) sampai pagi menjelang. Hal itu menandakan tidak ada rasa permusuhan di antara mereka. dan Sebaliknya, hal itu justru menandakan kebersamaan seluruh warga untuk menghadapi segala masalah di tahun-tahun kedepan .

o       Tradisi Sadran Mandung ( Ritual Suronan Khas Desa Susukan )
Kata sadran menurut kamus bahasa Jawa, Baoesastra Djawa adalah krama ngoko dari kata ruwah, dan ruwah menjadi satu nama bulan menurut kalender Jawa yakni bulan sebelum bulan puasa (Ramadlan). Dalam kalender Islam bulan Ruwah disebut Sa’ban. Dari kata sadran itulah muncul kata nyadran atau nyadranan, dan nyadran dalam budaya jawa selalu dikaitkan dengan ritual slametan atau pemberian sesaji untuk para leluhur yang telah dikuburan atau disemayamkan di suatu tempat atau juga bisa dilaksanakan di tempat keramat guna membersihkan tempat keramat tersebut dari hawa negatif yang biasa dilakukan pada bulan Ruwah. Pengertian tersebut memberikan pemahaman  kenapa sedekah laut maupun sedekah bumi disebut pula sebagai upacara nyadran, karena pada upacara sedekah bumi maupun sedekah laut intinya sesaji diberikan untuk tujuan tertentu dan ditempat-tempat yang dianggap keramat.

 
Warga Susukan membawa rantang makanan untuk dibawa ke makam Ki Mandung

 
Gerbang Menuju ke Makam Ki Mandung yang terletak diatas bukit Gunung Kalong

Kebersamaan warga Susukan di area makam Ki Mandung  setelah ritual makan bersama 

Meski demikian nyadran tidak selalu dilaksanakan pada bulan Ruwah. Salah satu contoh yang ingin dipaparkan penulis disini adalah upacara nyadran yang dilaksanakan di makam gunung Kalong, desa Susukan kabupaten Semarang. Di desa ini, upacara dilakukan untuk berziarah ke makam Ki Mandung dan para murid-muridnya yang dianggap sebagai cikal bakal pendiri desa Susukan. Upacara ini digelar pada tanggal 1 Suro dan 21 Suro ( bertepatan dengan hari Jum’at Wage atau Jum’at Kliwon ) . Pada kedua malam Suro itu di makam Ki Mandung di gunung Kalong dilakukan tahlilan dan diteruskan dengan acara lek-lekan. Sementara itu untuk keperluan santap makan para peziarah esok hari, dilakukan penyembelihan beberapa ekor kambing. Keesokan harinya para peziarah dari penduduk desa Susukan, laki-laki maupun perempuan berduyun-duyun datang ke makam Ki Mandung ( termasuk warga Susukan yang tinggal di luar kota dan Provinsi yang juga turut menghadiri acara ini dikarenakan sudah dianggap menjadi suatu kewajiban untuk pulang kampung ketika bulan Suro tiba ). Mereka datang sambil membawa beraneka macam makanan, terkecuali tempe. Menurut cerita tempe merupakan makanan yang paling tidak disukai oleh salah satu murid Ki Mandung , konon salah seorang murid Ki Mandung yang bernama Syeh Hasan Husen suatu hari berjalan menyusuri sungai sampai pada suatu tempat melihat perempuan-perempuan yang sedang menginjak-injak kedele yang akan disiapkan untuk dibuat tempe. Dia tidak suka dengan cara membuat makanan seperti itu dan karenanya dia tidak mau mengkonsumsi tempe.
Adapun upacara sadran Mandung akan diawali dengan serangkaian acara di bawah ini :
1.      pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an
2.      Pembacaan pengumuman tentang pendapatan shodaqah yang berhasil dikumpulkan dari peziarah makam Ki Mandung  
3.      penyampaian kata sambutan dari penyelenggara dan pihak-pihak terkait
4.      pembacaan do’a tahlil.
5.      Selesai tahlilan dilanjutkan dengan acara makan bersama. Di samping menyantap daging kambing-kambing yang telah disiapkan oleh penyelenggara, para peziarah makan bersama dengan saling tukar menukar makanan yang mereka bawa dari rumah.
6.      Melakukan prosesi mengarak tiga tumpeng , dengan formasi barisan rombongan kirab sebagai berikut :

Prosesi kirab  arak-arakan Gunungan dari Balai Desa Kelurahan Ki Mandung ( Susukan)  menuju ke Makam Ki Mandung
o       Di barisan pertama sejumlah warga berpakaian adat Jawa, disusul pemuda yang membawa dua gagar mayang besar.
o       Lalu di barisan berikutnya, empat orang mengusung tumpeng agung yang berisi nasi kuluban, lauk-pauk, serta ingkung ayam. Tumpeng agung tersebut diapit tumpeng lanang wadon yang terdiri atas sayur-mayur dan buah-buahan hasil bumi penduduk.
7.      Setelah prosesi ziarah usai, sebelum warga pulang kembali ke rumah masing-masing , Di area makam Ki Mandung, para warga saling berebut untuk mengais bunga tabur dan Kembang Manggar yang telah menumpuk di makam Ki Mandung, Kedua benda tersebut dipercaya akan membawa berkah bagi setiap warga Susukan yang mau mengambilnya .  

Berdasarkan hasil pengamatan yang sudah dilakukan di Desa Susukan dan Desa Muneng , Penulis dapat menyimpulkan bahwa tradisi Suronan yang ada di kedua desa tersebut masih diyakini mayoritas warga desa sebagai suatu ritual besar dan sakral yang wajib dilakukan setiap tahunnya karena bisa membawa keberkahan tersendiri bagi warga Desa , serta keselamatan dalam menjalani hidup yang akan datang.
Tetapi dibalik makna kesakralan tersebut, terdapat banyak mitos lokal yang masih dipercaya banyak warga di kedua desa , misalnya : Mitos tentang bunga tabur makam Ki Mandung yang dipercaya dapat membawa berkah apabila dibawa pulang, Mitos terntang ritual lempar ketupat yang dianggap dapat membuang sial warga desa Muneng, dan mitos-mitos lain yang memiliki daya tarik tersendiri bagi warga di kedua belah desa .

 

TERIMA KASIH



Sedekah bumi dusun Ampel

Sedekah Bumi Dusun Ampel Gading

Sumber : Harian Semarang 
(Muhammad Syukron/JBSM/17)
KALISEGORO-Gending lagu -lagu khas Semarangan pun mulai mengalun dari sebuah VCD yang diputar oleh pemilik sound system yang ada di samping panggung. Berulang kali, seorang lelaki bertubuh gemuk yang telah memakai berkap lengkap dengan jarik bermotif batik itu terus memanggil warga untuk berkumpul melalui pengeras suara dengan bahasa Jawa Kromo Inggil.

Beberapa saat kemudian, warga pun berduyun-duyun merapat di depan panggung dan mengitari dua tumpeng besar yang berisi buah-buahan seperti melon, pisang, durian, mangga, wortel, semangka, sayuran, ketela, kacang tanah, dan umbi-umbian lainnya. 

Deru suara drum band yang dimainkan oleh siswa MTs Al Asror Gunungpati pun memancing warga untuk terus berdatangan. Setelah dilakukan prosesi penyerahan keris Kyai Kabluk, prosesi arak-arakan dalam rangka sedekah bumi warga Dusun Ampel Gading itu pun dimulai, Sabtu (29/9) siang. 

Dua kuda yang ditumpangi Lurah Kalisegoro Ganefo Sodri Anwar dan Ketua Panitia Sedekah Bumi Sudarmono berada di barisan terdepan, disusul drum band, barisan prajurit lengkap dengan bambu runcing, pembawa gunungan dan penderek dengan pakaian beskap hijau semarangan. 

Mereka berjalan pelan mengelilingi kampung sejauh dua kilometer lebih. Sampai di depan panggung, warga yang telah berkumpul pun langsung menyerbu dua gunungan. 

“Saya hanya mendapat ketela saja, karena harus berdesak-desakan dengan yang lebih muda,” tutur Karmani (62).
Sesepuh Dusun Ampel Gading, Desa Kalisegoro Marsidi (85) menuturkan, acara Sedekah Bumi Kyai dan Nyai Kabluk itu dilakukan dalam rangka wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen durian, jagung, ketela, rambutan yang setiap tahun terus mengalami peningkatan. 

Dijelaskan, Dusun Ampel Gading yang dahulu kala merupakan hutan belantara menjadi pemukiman berkat jasa Kyai Kabluk dan Nyai Kabluk. Kedua tokoh yang dimakamkan tidak jauh dari kampung itu pada zaman dahulu melakukan babat alas dan menjadikan kawasan yang dahulu merupakan hutan belantara menjadi permukiman.

“Harapan warga tentunya hasil panen terus meningkat setiap tahun, karena di kampung ini dikenal sebagai sentra durian dan rambutan. Selain itu, kami juga berharap, kehidupan masyarakat tetap tenteram, damai dan rukun,” imbuh Sudarmono yang ditunjuk oleh warga sebagai ketua panitia kegiatan. 

Usai arak-arakan, seluruh warga pun makan bersama di depan panggung sambil dihibur musik dangdut. Selanjutnya, pada malam hari, digelar wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Joko Prasojo atau yang terkenal dengan sebutan Ki Dalang Joko Edan Hadiwijoyo.