Tuesday, November 12, 2013

NGURI-NGURI RITUAL SURONAN UNGARAN

NGURI-NGURI TRADISI SURONAN DI DESA MUNENG DAN DESA SUSUKAN ( KECAMATAN UNGARAN TIMUR ) KABUPATEN SEMARANG

Kecamatan Ungaran Timur bisa dikatakan sebagai salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang yang sudah di masuki unsur-unsur modernitas dalam kehidupan warganya. Namun walaupun begitu, pelestarian akar kebudayaan lokal yang telah menjadi warisan adiluhung dari para leluhur, masih dipertahankan dan diuri-uri oleh mayoritas warga di kecamatan ini, Dan salah satu wujud cinta warga terhadap kebudayaan lokal tersebut dapat terwujud dalam pelaksanaan beberapa prosesi tradisi budaya lokal di dalam menyambut tahun baru Islam 1435 Hijriah .
Dari berbagai macam prosesi yang ada pada setiap desa di kecamatan Ungaran Timur ,  kali ini penulis akan memfokuskan pada acara penyambutan tahun baru Islam yang bebarengan dengan perayaan tahun baru Jawa ( suro) di Desa Susukan dan Desa Muneng yang masih terletak pada satu kecamatan yang sama ( Ungaran Timur) , dan prosesi tradisi budaya lokal tersebut diantaranya :

o       Tradisi Lempar Ketupat ( Ritual Suronan Khas Desa Muneng )
Di Desa Muneng yang terletak di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Ungaran Timur mempunyai suatu tradisi lokal yang unik berupa “ tradisi lempar ketupat” di dalam menyambut tahun baru Jawa 1 Suro yang berbarengan pula dengan perayaan tahun baru 1 Muharram dalam kalender penanggalan Islam. 
 Acara tersebut diawali ketika bunyi suara tiang listrik di seluruh penjuru desa Muneng dipukul secara bertalu-talu pada jam 18.00 , hal itu menandakan bahwa saatnya bagi ratusan warga desa, dari usia muda hingga orang tua, laki-laki dan perempuan untuk turun ke perempatan jalan Dusun Muneng dengan membawa kelengkapan acara berupa ketupat lengkap dan sayur- mayurnya masing-masing . 

Tradisi Unik Desa Sidomulya

Warga desa Muneng mulai berkumpul di perempatan jalan desa setelah bunyi suara tiang listrik usai diperdengarkan

Sebelum acara saling lempar ketupat dimulai, acara akan diawali dengan melantunkan azan secara bersama-sama yang dilakukan oleh 4 orang berbeda dengan menghadap ke empat penjuru arah mata angin yaitu utara, selatan, barat dan timur . Menurut Mbah Mahsun ( Muadzin di Kelurahan Sidomulyo ) mengatakan bahwa prosesi azan menghadap empat arah dan saling melempar ketupat itu merupakan suatu simbol agar segela hal yang membuat sial masyarakat tidak mendatangi desa tersebut selama setahun kedepan . 

Warga desa Muneng menyantap hidangan yang telah mereka bawa dari rumah secara bersama-sama dengan suasana yang kekeluargaan

Lalu, Setelah diawali dengan azan papat dan membacakan doa-doa untuk memohon keselamatan bagi seluruh penduduk Desa Muneng , semua warga diperbolehkan untuk menyantap hidangan ketupat dan sayur yang telah mereka bawa dari rumah secara bersama-sama dengan warga yang lain ( dalam prosesi santap malam ini, warga desa diperbolehkan untuk menukar atau membagikan makananannya kepada warga lain sebagai tanda ucapan syukur atas rejeki yang telah dilimpahkan kepada warga desa di tahun ini ). Menurut mbah Mahsun selaku modin ( muadzin) di Desa Muneng, acara santap malam diatas merupakan acara yang baru-baru saja digelar pada tahun 2010 kemarin, karena sebelum tahun 2010 , setelah warga berdoa , seluruh warga  langsung melempar ketupat dengan sayur-mayur yang mereka bawa dari rumah ke warga lain tanpa menyatapnya terlebih dahulu , Tetapi, hal itu kini dianggap sebagai aktivitas yang menyia-nyiakan makanan dan terkesan mubazir, sehingga mulai tahun 2010, warga desa diwajibkan untuk menyatap makanan yang telah dibawanya secara bersama-sama terlebih dahulu agar yang dilempar pada prosesi “ perang ketupat” nanti hanyalah berupa makanan sisa yang tidak disantap warga di acara makan bersama .


Warga Saling melempar Ketupat dan sayur mayur bawaannya sebagai tanda membuang sial dan dijauhkan dari bencana selama setahun kedepan

Setelah acara santap malam usai , puncak acara yang telah ditunggu-tunggu wargapun tiba, yaitu berupa acara perang ketupat yang disinyalir akan berlangsung seru di setiap tahunnya. Dalam prosesi ini , Semua warga  desa diperbolehkan untuk saling melempar ketupat  dan sisa makanan yang masih ada ke warga lain yang ada di lokasi perhelatan, sebagai tanda membuang sial dan menjauhkan bencana untuk seluruh warga Desa Muneng . Sebaliknya, apabila di suatu hari nanti tradisi perang ketupat ini tidak digelar, maka warga percaya akan terjadi bencana besar yang menimpa Desa Muneng .
Ketika puncak acara saling serang ketupat usai, warga pun saling bermaaf-maafan dan dilanjutkan dengan acara lek-lekan ( kumpul bersama dalam suasana guyub rukun) sampai pagi menjelang. Hal itu menandakan tidak ada rasa permusuhan di antara mereka. dan Sebaliknya, hal itu justru menandakan kebersamaan seluruh warga untuk menghadapi segala masalah di tahun-tahun kedepan .

o       Tradisi Sadran Mandung ( Ritual Suronan Khas Desa Susukan )
Kata sadran menurut kamus bahasa Jawa, Baoesastra Djawa adalah krama ngoko dari kata ruwah, dan ruwah menjadi satu nama bulan menurut kalender Jawa yakni bulan sebelum bulan puasa (Ramadlan). Dalam kalender Islam bulan Ruwah disebut Sa’ban. Dari kata sadran itulah muncul kata nyadran atau nyadranan, dan nyadran dalam budaya jawa selalu dikaitkan dengan ritual slametan atau pemberian sesaji untuk para leluhur yang telah dikuburan atau disemayamkan di suatu tempat atau juga bisa dilaksanakan di tempat keramat guna membersihkan tempat keramat tersebut dari hawa negatif yang biasa dilakukan pada bulan Ruwah. Pengertian tersebut memberikan pemahaman  kenapa sedekah laut maupun sedekah bumi disebut pula sebagai upacara nyadran, karena pada upacara sedekah bumi maupun sedekah laut intinya sesaji diberikan untuk tujuan tertentu dan ditempat-tempat yang dianggap keramat.

 
Warga Susukan membawa rantang makanan untuk dibawa ke makam Ki Mandung

 
Gerbang Menuju ke Makam Ki Mandung yang terletak diatas bukit Gunung Kalong

Kebersamaan warga Susukan di area makam Ki Mandung  setelah ritual makan bersama 

Meski demikian nyadran tidak selalu dilaksanakan pada bulan Ruwah. Salah satu contoh yang ingin dipaparkan penulis disini adalah upacara nyadran yang dilaksanakan di makam gunung Kalong, desa Susukan kabupaten Semarang. Di desa ini, upacara dilakukan untuk berziarah ke makam Ki Mandung dan para murid-muridnya yang dianggap sebagai cikal bakal pendiri desa Susukan. Upacara ini digelar pada tanggal 1 Suro dan 21 Suro ( bertepatan dengan hari Jum’at Wage atau Jum’at Kliwon ) . Pada kedua malam Suro itu di makam Ki Mandung di gunung Kalong dilakukan tahlilan dan diteruskan dengan acara lek-lekan. Sementara itu untuk keperluan santap makan para peziarah esok hari, dilakukan penyembelihan beberapa ekor kambing. Keesokan harinya para peziarah dari penduduk desa Susukan, laki-laki maupun perempuan berduyun-duyun datang ke makam Ki Mandung ( termasuk warga Susukan yang tinggal di luar kota dan Provinsi yang juga turut menghadiri acara ini dikarenakan sudah dianggap menjadi suatu kewajiban untuk pulang kampung ketika bulan Suro tiba ). Mereka datang sambil membawa beraneka macam makanan, terkecuali tempe. Menurut cerita tempe merupakan makanan yang paling tidak disukai oleh salah satu murid Ki Mandung , konon salah seorang murid Ki Mandung yang bernama Syeh Hasan Husen suatu hari berjalan menyusuri sungai sampai pada suatu tempat melihat perempuan-perempuan yang sedang menginjak-injak kedele yang akan disiapkan untuk dibuat tempe. Dia tidak suka dengan cara membuat makanan seperti itu dan karenanya dia tidak mau mengkonsumsi tempe.
Adapun upacara sadran Mandung akan diawali dengan serangkaian acara di bawah ini :
1.      pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an
2.      Pembacaan pengumuman tentang pendapatan shodaqah yang berhasil dikumpulkan dari peziarah makam Ki Mandung  
3.      penyampaian kata sambutan dari penyelenggara dan pihak-pihak terkait
4.      pembacaan do’a tahlil.
5.      Selesai tahlilan dilanjutkan dengan acara makan bersama. Di samping menyantap daging kambing-kambing yang telah disiapkan oleh penyelenggara, para peziarah makan bersama dengan saling tukar menukar makanan yang mereka bawa dari rumah.
6.      Melakukan prosesi mengarak tiga tumpeng , dengan formasi barisan rombongan kirab sebagai berikut :

Prosesi kirab  arak-arakan Gunungan dari Balai Desa Kelurahan Ki Mandung ( Susukan)  menuju ke Makam Ki Mandung
o       Di barisan pertama sejumlah warga berpakaian adat Jawa, disusul pemuda yang membawa dua gagar mayang besar.
o       Lalu di barisan berikutnya, empat orang mengusung tumpeng agung yang berisi nasi kuluban, lauk-pauk, serta ingkung ayam. Tumpeng agung tersebut diapit tumpeng lanang wadon yang terdiri atas sayur-mayur dan buah-buahan hasil bumi penduduk.
7.      Setelah prosesi ziarah usai, sebelum warga pulang kembali ke rumah masing-masing , Di area makam Ki Mandung, para warga saling berebut untuk mengais bunga tabur dan Kembang Manggar yang telah menumpuk di makam Ki Mandung, Kedua benda tersebut dipercaya akan membawa berkah bagi setiap warga Susukan yang mau mengambilnya .  

Berdasarkan hasil pengamatan yang sudah dilakukan di Desa Susukan dan Desa Muneng , Penulis dapat menyimpulkan bahwa tradisi Suronan yang ada di kedua desa tersebut masih diyakini mayoritas warga desa sebagai suatu ritual besar dan sakral yang wajib dilakukan setiap tahunnya karena bisa membawa keberkahan tersendiri bagi warga Desa , serta keselamatan dalam menjalani hidup yang akan datang.
Tetapi dibalik makna kesakralan tersebut, terdapat banyak mitos lokal yang masih dipercaya banyak warga di kedua desa , misalnya : Mitos tentang bunga tabur makam Ki Mandung yang dipercaya dapat membawa berkah apabila dibawa pulang, Mitos terntang ritual lempar ketupat yang dianggap dapat membuang sial warga desa Muneng, dan mitos-mitos lain yang memiliki daya tarik tersendiri bagi warga di kedua belah desa .

 

TERIMA KASIH



No comments: