Sunday, March 20, 2016

SEKELUMIT LEGENDA SI TRANSPORTASI TREM DAN LELUCONNYA ALA KOTA SEMARANG....

  
 

Pada awal abad ke 20, kendaraan trem merupakan salah satu transportasi paling primadona dan menjadi dambaan bagi penduduk priyayi berduit dan keluarga pejabat kolonial Belanda di sebagain besar kawasan Pulau Jawa, tak terkecuali juga dengan keberadaan sarana transportasi trem yang hilir-mudik di jantung pusat Kota Semarang kala itu, yang terletak di Jalan Wilhemina ( Wilhemina Straat ) atau yang sekarang sudah berubah nama menjadi Jalan Pandanaran. Pada era ini, masyarakat priyayi tidak segan-segan untuk mengeluarkan beberapa lembar uang Gulden-nya hanya untuk menikmati keindahan Kota Semarang dengan menggunakan moda transportasi warga kelas wahid ini. Bahkan di kala hari lebaran tiba, orang-orang dari kalangan menengah bawah-pun tak mau melewatkan kesempatan untuk menaiki trem dan saling berebutan untuk mendapatkan gerbong terdepan guna merayakan kebahagiaan berlebaran dengan menaiki moda transportasi mahal ini. Untuk membayar ongkos tremnya, sebagian besar anak-anak saling patungan uang untuk membayar karcis tremnya, uang patungannya mereka dapatkan dari hasil uang berkeliling kampung atau orang sekarang kerap menyebutnya dengan istilah " uang angpao hari raya " 
 

Ada sekelumit kisah lucu dibalik moda transportasi trem di Semarang...Di sebagian wilayah Kota Semarang yang berada dikawasan pinggiran kampung, kendaraan trem terkadang masih dianggap sebagai kendaraan yang misterius dan memancing banyak tanda tanya, hal itu dikarenakan pada waktu itu mesin uap yang menggerakkan trem dianggap mengandung unsur mistis dan takhayul..karena pola pikir masyarakat kala itu masih cukup sederhana dan tradisonal , semisal ada ungkapan yang menyebutkan " Ora mungkin ana kereta iso mlaku nak ora nganggo jaran utawa sapi ..liyane kuwi paling sing ngelakokke keretane yo memedi alas"... (tidak mungkin ada kereta yang bisa berjalan tanpa menggunakan kuda ataupun sapi, selain digerakkan oleh kedua hewan itu..paling yang menjalankan keretanya ya hantu hutan...)..Bahkan terkadang karena saking takutnya warga kampung pada "penunggu" kendaraan trem waktu itu, ketika ada sebagian dari mereka yang ingin menaiki trem..ritual copot sandal menjadi tradisi wajib warga kampung sebelum masuk ke gerbong trem sebagai wujud rasa hormat atau permintaan "ijin kulanuwun" pada si trem...sungguh lucu ya pola pikir masyarakat tempo dulu...
Bahkan ketika trem melewati kawasan desa pinggiran..anak-anak kampung dengan semangatnya pada berlarian sambil berteriak " Wooi..Ana kereta liwat ora ana kudane.."...merekapun waktu itu masih menganggap mesin uap sebagai suatu hal yang aneh dan sulit diterima nalar pikiran.....Itulah tadi sekelumit kisah legenda konyol trem di Kota Semarang...bahkan ada mitos lucu yang mengatakan , apabila trem melewati depan gedung lawang sewu..jumlah pintu di lawang sewu akan berkurang satu..sehingga jumlahnya tinggal 999...atau para kenek trem kala itu kerap berkelakar dan berteriak" Sapa sing arep mudun ning Gedung Songo ngatus songopuluh songo? ketika tiba di halte pemberhentian trem di depan Lawang Sewu  ..... Sungguh kocak abis ya guys...ha..ha..ha....
 

Monday, March 14, 2016

SEJARAH DIBALIK NAMA SEMARANG, LUMPIA, DAN WARAK NGENDOK

Mungkin sebagian dari teman-teman yang mengaku orang Semarang aslimasih ada yang bingung bagaimana asal nama Kota Semarang dibentuk dan ditemukan, dan mungkin masih ada yang bertanya-tanya pula apakah lumpia itu memang ditakdirkan untuk terlahir di Kota Semarang atau merupakan makanan impor dari negeri lain, dan mungkin masih ada yang bingung apa itu warak ngendok..apakah sejenis makanan yang ada telurnya macam siomay atau bukan..semoga video ini dapat menjawab semua rasa kepenasaran teman-teman akan jati diri Kota Semarang yang sesungguhnya ........ 


Semoga infonya sangat bermanfaat yaa..terutama bagi sobat semua yang ingin mengikuti ajang pemilihan duta wisata Denok Kenang 2016...

YO KAS...SUKSESKAN PEMILIHAN DUTA WISATA KOTA SEMARANG TAHUN 2016...


 
 

Sunday, March 13, 2016

HAL-HAL ANTI MAINSTREAM TERKAIT LAWANG SEWU (Part 3)

 Ada Brankas Tua yang tetap menjadi Misteri dan Membuat Penasaran Para Pegunjung.....
  
 

Ini Brankas Museum Bank Mandiri Jakarta yang bentuknya hampir sama persis dengan brankas Lawang Sewu yang nggak bisa dibuka hingga kini guys....

Apa itu brankas ? mungkin banyak yang bingung ya...brankas merupakan tempat khusus berbentuk lemari raksasa yang biasanya terbuat dari bahan baku baja tebal dan sulit rusak walaupun sudan berusia ratusan tahun...pemanfaatannya biasanya banyak digunakan di bank-bank, tempat pegadaian, Kantor-kantor arsip dan berbagai perusahaan....berbicara tentang brankas, pada masa kolonial biasanya brankas dipergunakan untuk menyimpan uang, emas batangan, dan surat-surat berharga dan dokumen-dokumen penting yang sangat dirahasiakan ke publik..pernah lihat film Titanic kan ? di bagian awal film..kita disuguhi adegan penyelaman kapal selam Ekspedisi pencarian harta Titanic dengan target utama Brankas harta keluarga Rose yang berisi berlian "Blue Diamond"yang berharga puluhan milyar di pasaran...Tetapi hasilnya nihil dan justru malah menemukan gambar sketsa Rose muda yang sedang berpose aduhai dengan mengenakan kalung berlian blue diamond...Sama halnya dengan kisah tersebut, sewaktu Mas Blogger berkunjung ke Lawang sewu beberapa bulan yang lalu...Saya juga sempat menyaksikan bentuk lemari brankas raksasa yang menempel di tembok gedung Lawang sewu di lantai 2...Dan tour guide resmi LS menuturkan, bahwa sampai sekarang..isi dari brankas raksasa itu masih menjadi misteri dan terkadang kerap mebuat para pengunjung penasaran dan bertanya-tanya...Menurut saya pribadi, isinya paling hanyalah dokumen-dokumen arsip kuno yang terkait dengan jawatan kereta api region Jawa Tengah dan sedikit harta karun yang tak jelas bentuknya (mungkin bisa dalam bentuk uang, emas, ataupun foto ayu dan tampan para sinyo dan noni Belanda)..entahlah..kehadirannya tetap menjadi misteri hingga tahun 2016 kini, dikarenakan memang sulit untuk dibuka oleh ahli las dan bongkar besi tua manapun....ha3X...biarlah brankas itu menjadi saksi bisu perjalanan Lawang Sewu dari masa ke masa....

Lawang Sewu : Gambar Latar Kartu Pos Paling Eksis dan Laris di Hindia Belanda Abad 20 .... 

Sebelum ada teknologi bernama Facebook, E-mail ,Instagram dan SMS Modern...sistem pemberian kabar informasi dilakukan melaui surat yang biasa dituliskan di kartu Pos yang memiliki gambar latar atau tema tertentu di bagian belakang suratnya...Dan pada era Hindia Belanda, kartu pos bergambar pemandangan, budaya lokal, dan gedung arsitektur rancangan para penjajah menjadi kartu pos yang sering dibeli oleh masyarakat kulit Putih yang kerap berbagi kabar informasi dengan anggota keluarganya di negeri kincir sana...Khususnya di Semarang sendiri, kartu pos bergambar Lawang sewu memang selalu diburu dan dicari oleh para Londho yang bermukim di Semarang waktu itu sebagai bentuk perwujudan bahwa mereka hidup sejahtera di negeri jajahan, yang dibuktikan dengan gambaran kokoh lawang Sewu yang menjadi simbol kekuatan kolonial di tanah Semarang tempo doeleoe....


Pada masa ini, gambar fisik Lawang sewu ditampilkan dalam dua versi, pertama ada yang menggunakan jepretan kamera jadul dan ada pula yang berupa gambar sketsa maupun lukisan tangan yang keduanya sama-sama bernilai estetika dan layak untuk dipertontonkan ke dunia internasional..yang unik dari sebagian besar gambar kartu pos bertema lawang sewu adalah setiap penerbit kartu pos memiliki tema yang berbeda-beda didalam menggambarkan kondisi Lawang Sewu, Semisal ada yang mengambil gambar lawang Sewu disertai gambar transportasi trem, ada yang mengambil Lawang sewu dari kejauhan supaya semua gambaran lokasi jalan Wilhelmina Straat ter"capture" secara sempurna, dan tema-tema lainnya....

 

 Image result for lawang sewu kartu pos kuno

HAL-HAL ANTI "MAINSTREAM" TERKAIT LAWANG SEWU (Part 2)

Ternyata ada Bekas Ruang Dansa Para Sinyo dan Noni Belanda yang Bikin Merinding Habis.....

 

Mereka yang dulu suka berdansa di abad 20-an..tetap eksis berdansa hingga 2016 dalam wujud makhluk yang berbeda...hiiiiii sereeemm....

 
 

Benerapa sudut ruang Dansa di Lawang Sewu yang bikin bulu kuduk merinding karena isu Spooky-nya

Saya yakin, semua teman-teman pernah menyaksikan film-film Disney maupun film Barat yang bersetting abad 20 atau bertema kerajaan-kerajaan Eropa (minimal pernah lihat film Cindrella-lah)..disalah satu adegannya, pasti akan ada bagian berpesta yang diselingi acara berdansa bersama pasangannya masing-masing..Pada masa itu, hiburan "dansa-dansi "(sebutan Bung Karno untuk menyebut gaya menari ala Barat) memang sangat digemari oleh kalangan pemudi dan pemuda dari negeri Eropa, hingga wabahnya-pun dapat dirasakan hingga ke wilayah Jajahannya, termasuk ke wilayah Indonesia dan Semarang pada khususnya, di wilayah ini sendiri..dulu banyak ditemukan banyak kawasan elit berupa bar maupun restaurant-restaurant milik pengusaha Belanda yang kerap dimanfaatkan untuk budaya dansa-dansi dengan pasangan tercinta (seperti keberadaan Gedung Marabunta di Kota Lama yang pernah dimanfaatkan sebagai gedung tonil dan pusat hiburan rakyat Belanda paling populer di Semarang)...Selain di lokasi-lokasi hiburan, acara dansa-dansi para sinyo dan noni juga kerap digelar di kantor-kantor atau institusi resmi milik Pemerintah Hindia Belanda (terutama di acara ulang tahun perusahaan, malam mingguan, Ulang Tahun Ratu Wilhelmina dan puncaknya di HUT Kemerdekaan Negeri Belanda)..dan salah satu tempat yang paling populer kala itu ya di Gedung Lawang Sewu yang memiliki banyak ruangan luas dan terkesan pas untuk tradisi dansa-dansi para Londho dahulu kala....Tapi yang bikin merinding mas Blogger adalah, ternyata para Sinyo dan Noni itu masih kerap berdansa dan eksis berjoget Londho hingga sekarang lho ..tepatnya di malam hari, bahkan menurut keterangan tour guide di Lawang Sewu, beberapa pengunjung dan penjaga gedung ini..pernah mendengar ada suara musik Klasik (seperti gaya musik Mozart dan Beethoven) melantun merdu diselingi suara gelak tawa sekumpulan orang misterius dan hentak sepatu orang menari...Bahkan dahulu ada salah satu pengunjung yang memiliki indera keenam, pernah menyaksikan ada sekumpulan orang Belanda yang menari dansa di salah satu ruangan yang terletak di Gedung Utama..Ya mungkin mereka semua"makhluk tak kasat mata" masih butuh hiburan untuk dunianya yang sudah berlainan dengan kita yang masih hidup ...."hiiii sereem....

Tak ada AC (Pendingin ruangan Modern) , Sistem Pendingin Bawah Tanah-pun Jadi.... 


 Kolam-kolam air yang dimanfaatkan untuk menyalurkan hawa sejuk ke seluruh bagian Gedung Lawang Sewu

 

Jendela dan Pintu di Lawang Sewu dibuat ukuran besar agar sirkulasi udara dapat berganti dengan sempurna 
  
Pada awal abad ke-20...Sistem pendingin ruangan modern seperti sekarang belumlah ditemukan...Lalu Bagaimana para Meneer, Menprouw, Sinyo, dan Noni bisa bertahan dari hawa panas negeri jajahannya di Indonesia, khususnya di Kota Semarang yang merupakan wilayah pesisir yang "puanase ngentang-ngentang" (tutur masyarakat Semarang untuk menyebut suhu panas yang ekstrim)...Oh ternyata setelah mas Blogger telusuri kesana-kemari di area Gedung Lawang Sewu...Jawaban ilmiah dan logis yang terkait sistem pendingin ruangan era Hindia Belanda abad 20 bisa terpecahkan seketika itu juga...Menurut keterangan tour guide yang pernah Mas Blogger temui, sistem pendinginan ruangan untuk gedung lawang sewu ternyata berasal dari ruangan bawah tanah gedung ini yang banyak terdapat kolam-kolam air raksasa untuk menyalurkan sirkulasi hawa dingin ke semua ruangan yang disalurkan melalui perantara instalasi pipa-pipa udara sederhana yang dibuat kala itu..maklum teknologi AC Modern belum ditemukan...Selain menggunakan ruang bawah tanah sebagai penyalur hawa sejuk, Pihak arsitek lawang Sewu juga membuat jendela-jendela di semua bagian gedung dengan ukuran besar dan mempertinggi langit-langit di semua gedung utama agar sirkulasi udara yang masuk dari luar gedung dapat terjadi dengan sempurna..hebat ya pemikiran mereka....
  Tapi Sayang-disayang...di era penjajahan Jepang, ruang bawah tanah yang sebelumnya difungsikan sebagai ruang khusus pencipta pendingin ruangan dialihkan fungsinya sebagai lokasi penjara tawanan pemberontak Indonesia dan tempat pemenggalan kepala para pejuang anti Jepang..hal itulah yang kini membuat kawasan ruang bawah tanah menjadi terksesan angkeer dan menyimpan kisah tragis memilukan yang sebetulnya tidak sesuai dengan fungsi awal bangunan bawah tanah yang dimanfaatkan sebagai ruang khusus penyalur sirkulasi hawa sejuk....

Ternyata..Fakta Membuktikan Bahwa Pohon Mangga Tertua di Kota Semarang terletak di Halaman Utama Gedung Lawang Sewu Lho Guys...

 

 
 Pohon Mangga Tali Jiwa di Tahun 2016
 
 
 Pohon Mangga Tali Jiwa sudah terlihat Eksis Berdiri kokoh Pada Foto yang diambil diawal abad 20-an ini  (Letaknya di sebelah kanan Gedung ini ).....Sudah Rimbun juga yaaa...    
 
Berbicara soal topik pohon-pohonan..makhluk hidup ciptaan Tuhan yang satu ini memang sudah eksis sejak jaman Mbah Dinosaurus...Tapi yang pernah terlintas di pikiran Mas Blogger adalah "Apakah ada Pohon Mangga Tertua di Kota Semarang ?'' (Pemikiran ini terlintas begitu saja ketika Saya sedang asik minum jus mangga di depan Taman KB Semarang, sembari menikmati sepiring tahu gimbal khas Semarang ) ...Ternayata eh ternyata, setelah berkunjung ke Lawang Sewu..Saya jadi tahu jawabannya, Menurut penuturan tour guide di LS (Lawang Sewu), Pohon Mangga yang terletak di halaman utama Gedung Lawang Sewu merupakan salah satu pohon tertua di Kota Semarang..Pohon Mangga yang kerap dijuluki dengan sebutan nama "Pohon Pelem Tali Jiwa" ini ditanam oleh Kepala Perusahaan PT Kereta Api Hindia Belanda (kurang jelas siapa nama bosnya tersebut) di hari peresmian perdana penggunaan gedung Lawang Sewu sebagai Kantor Resmi Jawatan Kereta Api Hindia Belanda Region Pulau Jawa...Berarti bisa kita taksir sendiri-kan ..berapa usia pohon itu di tahun 2016 kini ? Pastinya sudah lebih dari seratus tahun, karena lawang Sewu Sendiri dibangun sejak tahun 1904 dan baru diresmikan tahun 1907..Woow Kereeen.....

Lawang Sewu : "Surganya Tegel Kuno bermotif yang Cantik dan Antik"  
 
 

   Apa itu tegel ? mungkin sebagaian besar orang modern kurang paham apa definisi kalimat yang satu ini...Tapi Saya yakin, kalau orang kelahiran jadul pasti paham artinya..hehehe maaf nggak ngejek Om sama Tante ya...Tegel merupakan salah satu jenis pelapis lantai yang digunakan untuk menghias lantai agar lebih cantik dan estetik...berbicara soal tegel antik..lawang sewu adalah surganya seni hias lantai ini, beragam motif cantik dan indah dari tegel-tegel kuno berjajar rapi di sepanjang jalan utama gedung Lawang Sewu...Saya kurang tahu pasti tempat dimana tegel Lawang Sewu dibuat ?..tapi kalau dilihat dari motifnya, kok hampir sama dengan buatan Pabrik Tegel "Tjap Koentji " dari Yogyakarta yang mensponsori pembuatan tegel di Kraton Yogyakarta dan Surakarta sejak jaman Hindia Belanda...Apakah tegel Lawang Sewu juga dari sana ? entahlah..Oh ya, berbicara soal tegel...seni hias ruangan ini biasanya hanya menggunakan tegel motif di ruang-ruang utama saja yang sering dijamah tamu dan tempat hilir-mudik orang-orang setiap hari..tapi untuk ruang pribadi (seperti kamar mandi, ruang keluarga, dan kamar tidur) jarang menggunakan tegel hias atau bermotif, melainkan hanya tegel polos berwarna abu-abu semen sebagai upaya menghemat dana pembuatan tegel motif yang terbilang mahal saat itu..Di Lawang sewu sendiri, tegel motif akan banyak kita jumpai di selasar utama gedung ini, ruang dansa, rauang pertemuan pejabat Belanda, ruang utama, Hall Room, dan di bagian ruang teras lantai dua gedung ini..pokoknya di tempat yang sering dijamah tamu-tamu penting...
   Bicara soal motif tegel Lawang Sewu..Ternyata juga menjadi inspirasi utama untuk pengembangan motif Batik Semarangan oleh para pengusaha Batik yang juga kerap mencontoh dan merepro (produksi ulang)  oleh-oleh Tekstil khas Semarang ini dengan mencanting motif tegel Lawang Sewu sebagai tema kain Batik Semarangan...unik ya guys....

Friday, March 11, 2016

HAL-HAL ANTI "MAINSTREAM" DI LAWANG SEWU......(part 1)

Berbicara mengenai Kota Semarang, kurang lengkap rasanya jika kita tidak membicarakan mengenai bangunan ikon Kota Atlas yang satu ini, yaitu bangunan Lawang Sewu...Jika Biasanya di banyak blog dan website wisata lebih banyak mengulas mengenai sejarah Lawang Sewu dan Keangkerannya, kali ini Mas Blogger ingin membicarakan hal-hal atau info-info unik terkait Lawang Sewu yang "anti mainstream" dan pastinya jarang sobat semua temui di Blog Lain, yuk monggo disimak bersama hal-hal menarik apa yang belum pernah dibahas di blog dan website lain terkait bangunan yang konon memiliki seribu pintu ini : 
Selamat Datang di Gedungnya washtafel Antik Awal Abad 20......
          
 
 
Kenapa bisa dibilang surganya washtafel atau tempat cuci tangan antik abad 20..ya memang lawang sewu bisa Mas Blogger katakan sebagai museum perabot kamar mandi antik awal abad 20 yang mayoritas dibuat dari bahan porselain mahal dari Amsterdam, hal itu bisa Saya ketahui dari merk atau cap pabrikannya yang ada di pinggiran wastafel-nya yang bertuliskan "Van Den Berg Amserdam" ...mungkin pada waktu itu produk Eropa dianggap sebagai barang berkelas nomor wahid yang tentunya belum ditandingi oleh produk buatan China masa sekarang, Jika dilihat dari warna porselainnya, mayoritas didominasi oleh warna putih, mungkin dikarenakan pada masa itu teknologi mewarnai porselain secara bervariasi belum begitu dipahami atau karena selera masyarakat belanda kala itu yang tidak senang motif yang rumit dan norak sebagai penghias barang perabot kamar mandi, Tapi realita ini sungguh unik..karena jarang sekali ada bangunan tua peniggalan Belanda yang masih menyisakan peralatan kamar mandi secara lengkap seperti lawang sewu ini.

Mitos Seribu Pintu itu Cuma Buatan orang Pribumi yang Tak Bersekolah


Opo Yo Jumlah lawange ono sewu kas ? ( Ungkap kebanyakan masyarakat Kota Semarang jika ditanya mengenai jumlah pasti keseluruhan pintu yang ada di Lawang Sewu )..Bnayak orang yang sering berspekulatif atau menduga-duga mungkin jumlah seribu pada semua pintu di bangunan lawang Sewu itu fakta dan sudah pasti kebenarannya, Tapi ternyata semua itu hanyalah mitos belaka yang berhasil dibuat dan dilanggengkan kebenarannya oleh masyarakat semarang kelas bawah alias kaum Inlander yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah di zaman Belanda kala itu.Ya.... dalam kebiasaan masyarakat Jawa Jadul, segala macam hal yang jumlahnya terlihat cukup banyak dan sulit untuk dihitung memang selalu didentikkan dengan angka Seribu..seperti halnya Candi Sewu, Grojogan Sewu, Cemoro Sewu dan situs lainnya yang terkesan sangat memusingkan untuk dihitung satu-persatu... Karena fakta asli pernah dibuktikan oleh penelitian dari tim jurusan arsitektur dari UNDIP yang justru mengatakan jumlah pintu di lawang sewu hanya berada dikisaran 700-an pintu saja , itu sudah termasuk jendela besarnya yang terlihat seperti pintu pula.  

Wednesday, March 9, 2016

TAHAP POSITIVISTIK MASYARAKAT DI DALAM MENYAMBUT GERHANA MATAHARI DI INDONESIA

AKHIRNYA...INDONESIA TELAH MENUJU MASYARAKAT TAHAP POSITIVISTIK DALAM MENYIKAPI FENOMENA GERHANA MATAHARI DI TAHUN 2016
 
  
    Cuplikan rekaman TVRI tahun 1983 terkait fenomena gerhana waktu itu....
 
Oh ya ...Mas Mbak semuanya, berbicara mengenai fenomena kemunculan gerhana matahari yang sangat fenomenal di Bulan Maret 2016 kali ini...Mas Blogger ingin mencoba mengaitkan sejenak kemunculan fenomena gerhana matahari dengan teori tahap perkembangan masyarakat menurut tokoh Sosiologi Auguste Comte yang melakukan pencerahan pemahaman masyarakat secara bertahap. Dia berpendapat untuk pemahaman masyarakat ia sebut sebagai “Hukum Tiga Tahapan.” Yang pertama adalah tahap teologis di mana orang mengambil pandangan keagamaan masyarakat. Yang kedua adalah tahap metafisik di mana orang memahami hal-hal supranatural atau klenik sebagai bagian hidup masyarakat. Tahap akhir Comte adalah tahap ilmiah atau positifisme, yang ia percaya untuk menjadi puncak pembangunan sosial. Pada tahap ilmiah, masyarakat akan diatur oleh pengetahuan yang handal dan akan dipahami dalam terang pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan, terutama sosiologi. Meskipun pendekatan Comte saat ini dianggap sebagai cara yang sangat sederhana dan tidak berdasar untuk memahami pembangunan sosial, hal itu tetap menunjukkan wawasan penting dalam pemikirannya tentang cara di mana sosiologi, sebagai bagian dari tahap ketiga, akan menyatukan ilmu dan memperbaiki masyarakat.
 
 Ilustrasi Batara Kala memakan Matahari 
 
Di dekade 80-an lalu, Pemerintah Orde baru justru menebarkan berita yang seakan-akan mencekam untuk semua rakyat terkait kemunculan fenomena gerhana matahari ..Pada masa itu, semua warga justru dihimbau untuk tidak keluar rumah guna menghindari dampak negatif dari efek gerhana matahari..berita di TVRI waktu itu menebarkan informasi bahwa efek sinar ultarviolet dari gerhana matahari dapat menyebabkan kebutaan permanen yang dapat menimpa warga yang berani menyaksikan fenomena alam langka ini, bahkan dikawasan pedesaan terpencil, Pihak kepala desa justru mengumukan kepada seluruh warganya bahwa selama gerhana semua warga harus berada didalam rumah dan mengunci pintu dan semua lubang udara yang dapat dimasuki oleh sinar matahari..bahkan untuk ibu-ibu yang sedang hamil dan para ibu yang memiliki bayi-bayi yang masih kecil juga dianjurkan untuk bersembunyi dibawah kolongan meja atau tempat tidur guna menghindari dampak negatif dari kemarahan Batara Kala yang sedang murkadan sedang memakan matahari...Pada waktu itu, kemunculan gerhana justru lebih dipenuhi oleh unsur-unsur mitos masyarakat lokal yang lebih banyak berpendapat bahwa fenomena tersebut dapat mendatangkan marabahaya, penyakit, dan pertanda bencana alam...
 
 Masyarakat di masa lalu,bersembunyi di bawah meja atau kolongan tempat tidur guna menghindari efek negatif dari kemarahan Batara Kala di langit...   

 
Ritual menumbuk lesung di tanah pasundan dan sebagain wilayah jawa
 guna mengusir Batara Kala
 
Tapi tenang kawan-kawan... tahapan metafisik di masyarakat Indonesia itu kini telah berlalu dan digantikan oleh tahapan positivistik yang justru menganggap fenomena gerhana matahari sebagai fenomena alam langka yang wajib untuk disaksikan dengan kacamata gerhana maupun media lain yang mendukung...Bahkan pihak pengelola LAPAN, Planetarium Jakarta, dan Observatorium Boscha telah mempersiapkan diri secara matang guna menyambut kehadiran gerhana matahari di tahun 2016 ini....Dalam fenomena gerhana ini, Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla juga turut memantau fenomena alam yang langka ini dari tempat yang berbeda.....Memang masyarakat kita kini telah mengalami perubahan pola pikir dari pandangan tradisionilnya yang dipenuhi dengan mitos-mitos irrasional dan tidak ilmiah berbalut klenik didalam menyikapi fenomena gerhana matahari menuju masyarakat modern positivistik yang mulai menggunakan ilmu pengetahuan sebagai  landasan kehidupan mereka......
 


 Gerhana Matahari 2016
Gerhana Matahari Total 2016

gerhana Matahari : Wujud Toleransi Untuk Negeri

 HARI INI..KETIKA GERHANA MATAHARI MELANGGENGKAN ARTI SEBENARNYA DARI TOLERANSI DI NEGERI INDONESIA

Hari ini, 9 Maret 2016..merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang Indonesia dan ratusan turis asing yang datang dari berbagai negara yang penasaran akan suatu fenomena alam yang hadir 360 tahun sekali di tempat atau lintasan yang sama..mengapa dikatakan demikian istimewa, spesial dan ditunggu-tunggu kehadirannya ?, karena hari ini merupakan waktu terjadinya fenomena gerhana matahari total yang waktunya juga bertepatan dengan perayaan hari raya Nyepi untuk semua sobat Hindu di tanah air... 


Menurut Mas Blogger pribadi, kemunculan atau kehadiran fenomena gerhana Matahari di hari Raya Nyepi kali ini cukuplah unik dan membawa kesan tersendiri terhadap penerapan nilai-nilai bertoleransi antar umat beragama yang tinggal di Indonesia, mungkin kalau di Jawa makna toleransi itu tidak begitu terasa, dikarenakan mayoritas penduduknya beragama Islam..tetapi jika kita menengok ke Provinsi Bali, wujud kerukunan antar umat beragama didalam menyikapi fenomena GMT (Gerhana Matahari Total ) itu sangatlah terasa..dikarenakan di waktu yang bersamaan, kedua umat beragama (Islam dan Hindu) yang berbeda keyakinan sama-sama menjalankan ritual keagamaannya masing-masing tanpa saling mengganggu..seperti halnya yang terlihat di Kota Denpasar Pagi ini, Ketika ribuan umat Bali sedang melaksanakan tapa Brata Penyepian (Amati Geni, Amati Karya, dan Amati Lelungan), diwaktu yang bersamaan tepatnya pukul 07.00 WITA pagi, Umat Islam datang berbondong-bondong mendatangi Masjid dan Musholla terdekat guna melaksanakan sholat Gerhana sebagai wujud syukur terhadap karunia atau kebesaran Allah sebagai pemilik Alam Semesta...Yang menarik dalam perayaan ibadah sholat gerhana kali ini adalah pihak Masjid dan Musholla di Kota Denpasar telah bersepakat dengan MUI Kota Denpasar bahwa dalam pelaksanaan ibadah sholatnya, pihak Masjid dianjurkan untuk tidak menggunakan pengeras suara guna menghormati umat Hindu yang sedang melaksanakan ibadah mereka di Hari Raya Nyepi ini....dan dalam realitanya, keputusan bersama itu memang dipatuhi dan bukan merupakan bentuk intervensi dari satu pihak saja, melainkan merupakan wujud konkret dari kerukunan antar umat beragama.


Memang unik dan damai negeriku ini, Walaupun kami semua hidup didalam perbedaan..wujud nilai-nilai untuk saling menghargai sesama tetap diwujudkan dengan berlandaskan falsafah Bhineka Tunggal Ika.....   
   

SELAMAT HARI RAYA NYEPI 2016..SEMOGA TEMAN-TEMAN YANG BERAGAMA HINDU DAPAT MENYELESAIKAN TAPA BRATA PENYEPIANNYA SECARA KHUSYUK DAN MENDAPATKAN KEDAMAIAN HIDUP UNTUK TAHUN INI DARI IDA SANG HYANG WIDHI WASA

Thursday, March 3, 2016

MOHON PERHATIAN SERIUS DARI PAK HENDI DAN BU ITA.....

Kampung Batik Bubakan Butuh Perhatian Serius !!!

 

SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dinilai masih kurang perhatiannya terhadap Kampung Batik di Bubakan, Semarang Timur. Kondisi sentra penghasil batik terbesar di Kota Atlas ini minim fasilitas dan perlu dibantu promosi serta pemasarannya.
Salah satu pengusaha batik, Oktavia mengatakan, kegiatan membatik di kampung ini dari dulu hingga sekarang sebenarnya masih berlangsung. Ada sembilan orang pengusaha gerai batik di kawasan ini yang masih bertahan. Namun, bisnis tidak dalam kondisi baik, penjualan mereka kadang naik kadang turun. “Saat ini sebenarnya banyak pengunjung wisatawan lokal maupun asing singgah berbelanja batik khas Semarangan. Tapi kami masih kesulitan dalam hal pengembangannya,” katanya, kemarin.

Salah satu kendala yang dialami para pengusaha adalah minimnya produksi. Sebab di kawasan ini tidak ada tempat pengolahan limbah khusus sehingga mereka tidak bisa memproses batiknya di sini. Kegiatan di Kampung Batik hanya menggambar pola, sedangkan proses selanjutnya dilakukan di rumah. “Saya di sini cuma bisa nggambar nanti baru dilanjutkan produksi di rumah,” kata pemilik Toko Batik Temawon ini.

Pemerintah juga dinilai kurang membantu mempromosikan lokasi Kampung Batik sehingga lokasi ini tidak mudah dikenali. Pemerintah bahkan belum membangun plang penanda Kampung Batik, apalagi membuat tugu atau penanda besar lain agar bisa mudah dikenali pengunjung. Pengusaha berharap ada penanda yang dibangun dengan ukuran besar dan didesain batik. “Padahal potensi Kampung Batik sebagai kawasan wisata itu sangat menjanjikan, bisa menjadi salah satu objek wisata andalan di Kota Semarang,” katanya.  


Wisatawan yang ingin memiliki batik dari kawasan ini bisa membeli dengan beragam harga. Untuk batik Semarangan cap tulis kisaran harganya mulai dari Rp75.000 hingga Rp175.000. Sedangkan untuk selembar batik tulis dijual dengan harga Rp300.000 sampai Rp500.000 dengan ukuran 2x1 meter.

Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Laser Narindo mengatakan, sebagai daerah kunjungan wisata, infrastruktur di Kampung Batik harus diperbaiki. Selain itu, harus ada promosi besar-besaran sehingga membuat kawasan ini menjanjikan sebagai objek wisata andalan dan pusat bisnis batik Semarangan. “Kami akan mengusulkan agar Kampung Batik menjadi salah satu destinasi wisata city tour di Kota Semarag,” katanya.

Para anggota komisi yang membidangi pariwisata dan kebudayaan ini berharap pemerintah memberikan perhatian serius pada Kampung Batik. Salah satunya membenahi balai batik yang biasa digunakan untuk pelatihan membatik. Saat ini kondisinya memprihatinkan, tiang dan jendelanya mulai lapuk karena tidak terawat. Peralatan membatik yang ada di dalamnya juga telah usang. “Kami berharap ada perhatian serius dari pemkot, karena balai batik merupakan cikal bakal pembatik di Kampung Batik Semarang,” ujar Sugihartono, anggota Komisi D ini.

Kampung Batik juga dinilai membutuhkan lahan parkir yang layak sehingga pengunjung dalam jumlah banyak dengan bus berbadan besar tidak kesulitan mencari lahan parkir. Selain itu, pengrajin batik juga perlu mendapat perhatian, utamanya pembuangan limbah pewarna batik yang berbau tajam, permodalan, dan pemasaran hasil produksi.

m abduh

                                                                                                     Sumber :  http://www.koran-sindo.com

Menurut Mas Blogger, Nasib Kampung Batik Semarangan yang terletak di kawasan Bubakan (tak jauh dari Kota Lama dan kawasan Pasar Johar) tidak seberuntung kawasan Kampung Batik Laweyan di Solo, Kampung Batik Trusmi di Cirebon, Kampung Batik Lasem di Rembang yang jauh lebih dikenal karena lokasinya yang memang sudah digencarkan secara masif atau besar-besaran oleh Dinas Pariwisata di masing-masing Kota Tersebut..Berbicara mengenai kampung Batik Semarang, sebenarnya masih banyak PR yang perlu dikerjakan oleh Bapak Hendi dan Ibu Ita selaku Walikota dan wakil walikota Semarang, beberapa diantara masalah di Kampung Batik Bubakan adalah : 
1) Perlu penanganan yang serius terhadap banjir rob yang kerap melanda kampung Batik 
2) Perlu promosi lebih gencar terhadap keberadaan Kampung Batik Semarangan ini ( ingat oleh-oleh khas bukan hanya Lumpia, Wingko Babad dan Bandeng Presto saja..tetapi ada alternatif oleh-oleh baru bernama Batik khas Semarang ) 
3) Tolong jalan menuju Kampung Batik diperluas atau diperlebar, karena selama ini kalau Ke Kampung Batik Saya pribadi harus lewat gang-gang kecil yang sempit dan tidak bisa dimasuki mobil atau armada bus wisata
4) Perlu renovasi total di showroom Batik Semarangan yang kerap disebut warga Kampung Batik dengan istilah "Balai Batik"..bangunannya kini sangat mengenaskan, cat kusam tak terawat dan terlihat tidak layak dijadikan ruang pajang yang bagus untuk pengeunjung lokal dan mancanegara 
5) Perlu dibuat gerbang Selamat datang di kampung Batik yang besar dan bisa dilihat dari kejauhan..karena selama ini, tulisan Selamat datang di kampung batik sangatlah kecil...
6) Harus sinergikan agenda city tour dengan kunjungan ke Kampung Batik, terutama untuk turis dari luar kota dan turis asing 
7) Kalau bisa ditembok-tembok warga Kampung Batik dibuat Mural atau gambar raksasa yang bertema batik Semarangan 
8) Untuk Mas Kenang dan Mbak Denok Semua yang menjadi Duta Wisata..mari lebih giat lagi mempromosikan Kampung Batik Semarangnya...ingat Semarang bukan hanya lawang sewu, dan Kota Lama..tapi ada juga kampung Batik Bubakan 
9) Buatlah festival-festival berkelas nasional atau internasional di Kampung Batik..terutama di Hari Batik Nasional maupun di HUT Kota Semarang....
10) Semoga Bu Ita dan Pak Hendi mau mewujudkan revitalisasi dan penataan ulang Kampung Batik Semarang diatas,agar Semarang memiliki ikon oleh-oleh baru diluar Bandeng Presto dan Lumpia....

 
                              Gerbang Penanda Selamat Datang di Kampung Batik Kurang Menarik....

 

Tempat Showroom Batik lebih tampak seperti rumah warga biasa .....kurang bisa dijual ke khalayak turis lokal dan mancanegara..karena bagi mereka kenyamanan tempat adalah segalanya....