Sunday, March 20, 2016

SEKELUMIT LEGENDA SI TRANSPORTASI TREM DAN LELUCONNYA ALA KOTA SEMARANG....

  
 

Pada awal abad ke 20, kendaraan trem merupakan salah satu transportasi paling primadona dan menjadi dambaan bagi penduduk priyayi berduit dan keluarga pejabat kolonial Belanda di sebagain besar kawasan Pulau Jawa, tak terkecuali juga dengan keberadaan sarana transportasi trem yang hilir-mudik di jantung pusat Kota Semarang kala itu, yang terletak di Jalan Wilhemina ( Wilhemina Straat ) atau yang sekarang sudah berubah nama menjadi Jalan Pandanaran. Pada era ini, masyarakat priyayi tidak segan-segan untuk mengeluarkan beberapa lembar uang Gulden-nya hanya untuk menikmati keindahan Kota Semarang dengan menggunakan moda transportasi warga kelas wahid ini. Bahkan di kala hari lebaran tiba, orang-orang dari kalangan menengah bawah-pun tak mau melewatkan kesempatan untuk menaiki trem dan saling berebutan untuk mendapatkan gerbong terdepan guna merayakan kebahagiaan berlebaran dengan menaiki moda transportasi mahal ini. Untuk membayar ongkos tremnya, sebagian besar anak-anak saling patungan uang untuk membayar karcis tremnya, uang patungannya mereka dapatkan dari hasil uang berkeliling kampung atau orang sekarang kerap menyebutnya dengan istilah " uang angpao hari raya " 
 

Ada sekelumit kisah lucu dibalik moda transportasi trem di Semarang...Di sebagian wilayah Kota Semarang yang berada dikawasan pinggiran kampung, kendaraan trem terkadang masih dianggap sebagai kendaraan yang misterius dan memancing banyak tanda tanya, hal itu dikarenakan pada waktu itu mesin uap yang menggerakkan trem dianggap mengandung unsur mistis dan takhayul..karena pola pikir masyarakat kala itu masih cukup sederhana dan tradisonal , semisal ada ungkapan yang menyebutkan " Ora mungkin ana kereta iso mlaku nak ora nganggo jaran utawa sapi ..liyane kuwi paling sing ngelakokke keretane yo memedi alas"... (tidak mungkin ada kereta yang bisa berjalan tanpa menggunakan kuda ataupun sapi, selain digerakkan oleh kedua hewan itu..paling yang menjalankan keretanya ya hantu hutan...)..Bahkan terkadang karena saking takutnya warga kampung pada "penunggu" kendaraan trem waktu itu, ketika ada sebagian dari mereka yang ingin menaiki trem..ritual copot sandal menjadi tradisi wajib warga kampung sebelum masuk ke gerbong trem sebagai wujud rasa hormat atau permintaan "ijin kulanuwun" pada si trem...sungguh lucu ya pola pikir masyarakat tempo dulu...
Bahkan ketika trem melewati kawasan desa pinggiran..anak-anak kampung dengan semangatnya pada berlarian sambil berteriak " Wooi..Ana kereta liwat ora ana kudane.."...merekapun waktu itu masih menganggap mesin uap sebagai suatu hal yang aneh dan sulit diterima nalar pikiran.....Itulah tadi sekelumit kisah legenda konyol trem di Kota Semarang...bahkan ada mitos lucu yang mengatakan , apabila trem melewati depan gedung lawang sewu..jumlah pintu di lawang sewu akan berkurang satu..sehingga jumlahnya tinggal 999...atau para kenek trem kala itu kerap berkelakar dan berteriak" Sapa sing arep mudun ning Gedung Songo ngatus songopuluh songo? ketika tiba di halte pemberhentian trem di depan Lawang Sewu  ..... Sungguh kocak abis ya guys...ha..ha..ha....
 

No comments: