Monday, June 3, 2013

nguri-nguri budaya Semarangan

Budaya "Semarangan" Perlu Dilestarikan


                                 



SEMARANG, KOMPAS.com — Budaya "Semarangan" perlu dilestarikan dan dipopulerkan agar lebih dikenal secara luas, tidak hanya di kalangan masyarakat Semarang.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Semarang, Ny Sinto Sukawi, seusai membuka acara "Gebyar Pengantin Semarangan Tradisional" di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat.
"Selama ini, budaya Semarangan masih kalah populer dibandingkan dengan kebudayaan tradisional Solo dan Yogyakarta," kata istri Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip tersebut.
Bahkan, katanya, masyarakat Semarang sendiri masih banyak yang belum mengenal budaya yang dimiliki oleh kotanya.
Padahal, ia mengatakan, budaya Semarangan merupakan kebudayaan yang cukup unik karena merupakan gabungan dari beberapa kebudayaan, yaitu kebudayaan China, Jawa, dan Islam.
Ia menyebutkan, bentuk-bentuk kebudayaan tradisional khas Semarang di antaranya adalah batik Semarangan, pakaian adat Semarang, prosesi perkawinan khas Semarang, termasuk makanan khas Semarang.
Menurut dia, pakaian adat Semarang juga dapat dimodifikasi sesuai keinginan calon pengantin agar lebih menarik. "Namun, sebaiknya tidak melanggar pakem pakaian adat khas Semarang," katanya.
Ia mengharapkan, lewat penyelenggaraan acara tersebut dapat membantu memperkenalkan dan memopulerkan kebudayaan khas yang dimiliki Semarang.
"Sehingga, masyarakat Semarang tidak lagi sungkan dan malu menggunakan aset budaya yang dimiliki oleh Semarang dalam penyelenggaraan prosesi perkawinan," katanya.
General Manager (GM) Hotel Santika Premiere, Andhy Irawan, mengatakan, acara tersebut merupakan salah satu cara untuk mengangkat citra Kota Semarang di tingkat nasional.
"Lebih jauh, acara ini dapat dijadikan alternatif bagi pasangan pengantin untuk memilih budaya Semarangan sebagai sarana dalam menyelenggarakan prosesi perkawinan," katanya.
Ia mengatakan, acara ini akan berlangsung mulai hari ini (22/5) sampai Minggu (24/5). "Kami berharap masyarakat tidak lagi hanya berkiblat pada budaya Solo dan Yogyakarta dalam penyelenggaraan prosesi perkawinan, sebab Semarang juga memiliki potensi yang tidak kalah dari mereka," katanya.

                                      
                WAYAHE NGURI-NGURI KABUDAYAN SEMARANGAN NDA...........



No comments: