Friday, January 24, 2014

secerca harapan di tengah modernisasi budaya


MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN JAWA DALAM TANTANGAN DAN HARAPAN MODERNISASI KEKINIAN

Oleh : Sae Panggalih

A.     TANTANGAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA DI ERA KEKINIAN 

     Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia memiliki tiga wujud, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, wujud yang kedua sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud yang terakhir ialah sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Di masa lalu, ketiga wujud kebudayaan diatas sangatlah dijunjung tinggi keberadaannya di kalangan masayarakat Jawa, segala sesuatu hal yang menyangkut kehidupan selalu saja dikaitkan dengan hal-hal yang berbau kebudayaan lokal yang menjadi ciri khas dan merupakan jati diri dan warisan leluhur yang terus berkembang di era tersebut . Bentuk-bentuk kebudayaan lokal ini diantaranya berbentuk fisik maupun non fisik, seperti bahasa Jawa, aksara Jawa, tata krama, wayang, gamelan Jawa, bermacam-macam tarian, keris, ketoprak, dan batik..
 Tapi di era kekinian , semua wujud kebudayaan lokal yang ada seakan-akan telah terlupakan dan luntur dimakan zaman baru yang menuntut segala sesuatunya harus berbau hal yang berstatus ”modern” dan mengikuti trend yang sedang berlaku secara internasional. Pola pemikiran yang telah bergeser tersebut mengakibatkan keberadaan kebudayaan lokal masyarakat Jawa semakin luntur dikarenakan sudah dianggap sebagai wujud kebudayaan yang kuno dan tidak sesuai apabila diterapkan dalam kehidupan masayarakat Jawa modern, di era kekinian masyarakat Jawa modern sudah tidak mau direpotkan lagi dengan pakem-pakem tradisi yang dianggap sangat sulit untuk dimengerti dan diterapkan dalam kehidupan generasi Jawa sekarang .
Munculnya ketidakpedulian masyarakat Jawa modern terhadap kebudayaannya sendiri, disinyalir muncul akibat adanya fenomena globalisasi dan modernisasi yang selalu dijadikan acuan atau kiblat kebudayaan bagi generasi Jawa era sekarang yang selalu menganggap kebudayaan luar negeri jauh lebih keren dan modern dibandingkan dengan kebudayaan Jawa yang dianggap kuno dan dipenuhi berbagai macam aturan yang berbelit-belit .  Selain itu, munculnya fenomena globalisasi dan modernisasi pada kebudayaan Jawa bukanlah menjadi hal yang mengherankan lagi dikarenakan virusnya sudah berkembang di hampir seluruh pelosok dunia, terutama dinegara-negara berkembang. Perkembangan kebudayaan yang sudah dipengaruhi unsur modernisasi dan globalisasi ini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia sesuai dengan berkembangannya pengetahuan manusia untuk menciptakan inovasi baru. Seperti halnya peradaban manusia yang berkembang secara bertahap dari zaman prasejarah hingga zaman sejarah. Kebudayaan juga berkembang secara bertahap mengikuti perkembangan zaman. Globalisasi dan modernisasi dalam bidang kebudayaan dapat dilihat dengan semakin luasnya masyarakat dunia mengenal suatu kebudayaan dari suatu daerah. Seperti yang diungkapan oleh Anthony Giddens yang menyatakan bahwa modernitas meruntuhkan jarak antar ruang dan waktu.
Tetapi bagi kehidupan masyarakat Jawa modern , fenomena globalisasi dan modernisasi kebudayaan yang ada justru bukanlah dianggap sebagai suatu hal menguntungkan bagi kelompok masyarakat ini, melainkan lebih dianggap sebagai dua tantangan besar yang secara perlahan-lahan menggerogoti sendi-sendi kekayaan kebudayaan Jawa yang adi luhung. Dalam pelaksanaannya, globalisasi dan modernisasi yang terjadi pada kebudayaan Jawa justru lebih memberikan dampak negatifnya , misalnya  jika kita berbicara mengenai attitude atau tingkah laku kaum muda Jawa sekarang ini, pasti jauh lebih berbeda dengan tingkah laku kaum muda Jawa tempo dulu. Apalagi dengan adanya globalisasi dan modernisasi yang begitu pesat berkembangnya sampai saat ini. Bahasa, yang merupakan kebudayaan yang sangat krusial saja, mulai tidak dimengerti oleh kebanyakan kaum muda, terlebih lagi bahasa lokal yang terwujud dalam Basa Jawa . Pendidikan yang seharusnya berperan penting dalam pelestarian budaya lokal khususnya bahasa Jawa, malah memandang sebelah mata pelajaran muatan lokal yang satu ini . Justru, Bahasa yang lebih sering mereka gunakan adalah bahasa asing yang membuat mereka bangga akan hal itu . memang baik mempelajari bahasa asing itu, tetapi Jangan sampai kita harus menyingkirkan dan mengesampingkan bahasa lokal .
Selain bahasa, tingkah laku generasi muda Jawa yang sudah jarang sekali muncul adalah menunjukkan tata krama di dalam hidupnya yang perlahan mulai hilang akibat munculnya fenomena modernisasi . masyarakat Jawa sekarang ini justru lebih banyak dijejali oleh tayangan-tayangan yang menampilkan kehidupan budaya barat yang jelas-jelas itu tidak sesuai dengan adat dan budaya ketimuran . Tayangan kekerasan, seksualitas, irasional, dan lain sebagainya itu membuat dan mempengaruhi kaum muda sendiri dalam bertingkah laku atau bertata krama.
Selain menawarkan hiburan berbau kebarat-baratan, hiburan model lain (bentuk baru) nyaris membanjiri masyarakat Jawa baik di kota maupun di pelosok-pelosok desa. Sebagian hiburan bentuk baru tersebut disodorkan kepada masyarakat Jawa modern melalui perangkat-perangkat elektronik yang bisa dibeli oleh masyarakat dengan harga yang semakin murah. Orang tidak harus pergi jauh-jauh dari rumah untuk menikmati hiburan. Menikmati pentas wayang kulit bisa dilakukan di rumah, cukup dengan cara menyetel TV atau mengaktifkan Compact Disc (CD). Serbuan hiburan melalui perangkat elektronik berlangsung secara massif. Studio TV berdiri di mana-mana, bahkan studio TV lokal berdiri di hampir setiap ibukota propinsi yang jangkauan siarannya sampai ke pelosok-pelosok desa. Bisa jadi, kondisi semacam inilah yang pada akhirnya mengerogoti eksistensi kesenian tradisional. Masyarakat mungkin berpikir, sama-sama mencari kepuasan batin dengan dunia hiburan, ngapain harus jauh-jauh menonton kesenian tradisional secara live kalau menonton hiburan lain yang jauh lebih praktis telah tersedia. Dengan adanya TV yang menyiarkan berbagai bentuk hiburan dari yang tradisional sampai yang modern, masyarakat kemudian memiliki kesempatan untuk memilih dan memilah serta membandingkan dengan bentuk kesenian tradisional yang biasanya ditonton secara live di sekitar mereka. Bagi yang beranggapan bahwa kesenian tradisional ternyata tidak menghibur jika dibandingkan dengan kesenian yang disiarkan melalui TV, yang sebagian besar adalah bentuk kesenian modern, maka mereka dengan segera akan meninggalkan kesenian tradisional. Jika kondisi tersebut tidak diimbangi dengan kreatifitas para pelaku kesenian tradisional dalam rangka melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman, maka pelan-pelan kesenian tradisional tersebut pasti akan kehilangan pengikut atau penonton. Padahal, kesenian tradisional tanpa penonton ibarat guru yang tidak memiliki murid. Eksistensinya sebagai media hiburan akan hilang.
Disamping menggerus nilai budaya lokal yang ada, fenomena modernisasi dan globalisasi juga merusak gaya berinteraksi generasi Jawa masa kini . Dijaman modern yang menyajikan sesuatu yang serba cepat , efisien, dan instan , kaum muda Jawa saat ini sangat dimudahkan untuk berinteraksi . Jika flashback atau kembali ke masa lalu, apabila kita ingin bertemu dengan sesorang, maka harus dilakukan secara langsung dikarenakan tidak adanya alat komunikasi praktis diera itu . Tetapi sekarang,  dengan kecanggihan teknologi yang ada, hubungan telekomunikasi antar negara pun bisa kita jangkau. Tetapi hal tersebut, justru membuat masayarakat jawa modern menjadi cenderung disibukkan dengan jejaring sosial yang sedang tren pada saat ini, hal demikian memungkinkan kaum muda Jawa menjadi malas untuk berinteraksi dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya karena mereka hanya fokus dan sibuk dengan urusan pribadinya dan lebih mengenyampingkan urusan sosial, dan hal itu tetunya bisa menghapus image orang jawa yang selalu dikenal dengan sikap ramah , grapyak,  dan senang menghabiskan waktu luangnya dengan bercengkrama secara langsung dengan orang lain . 

B.     SETITIK HARAPAN BAGI KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA DI ERA KEKINIAN
Dibalik tantangan arus Globalisasi dan Modernisasi yang semakin menggerus sendi-sendi kebudayaan lokal masyarakat Jawa. Ternyata masih ada saja beberapa tokoh pelestari kebudayaan Jawa yang masih peduli terhadap keberadaan kesenian tradisi dan bisa memberikan harapan bagi kelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang semakin menggila , Para Seniman tersebut diantaranya adalah  :  
1.      Seniman pertama ialah Bondan Nusantara, seorang sutradara dan penulis ketoprak di tahun 80′an dari Yogyakarta. Bondan sudah menggeluti ketoprak selama lebih dari 40 tahun tepatnya selepas SMA dengan bergabung dalam Ketoprak Tobong. Kehadirannya di dunia ketoprak memberi warna tersendiri lewat beberapa ide baru seperti halnya ketoprak kolosal, ketoprak sayembara, ketoprak plesetan dan ketoprak ngoko. Hingga saat ini Bondan masih rajin menulis naskah ketoprak serta melatih anak-anak muda dan murid sekolah dasar untuk mencintai ketoprak tradisional .
2.      Tokoh kedua yaitu, Ki Anom Suroto. Dalang kelahiran 11 Agustus 1948 ini belajar wayang sejak umur 12 tahun. Ia belajar wayang dari ayahnya Ki Sabiyun Hardjodarsono.  Tokoh yang satu ini getol membina pedalangan dengan membina dalang-dalang muda. Secara berkala pada malam Rabu Legi, ia menggelar sarasehan dan pentas pedalangan di rumahnya. Selain itu, Beliau juga memprakarsai pendirian Yayasan Sesaji Dalang yang bertujuan membantu para seniman perdalangan. Agar tidak ditinggal generasi muda, Anom mampu menyederhanakan bahasa wayang sehingga mudah diterima publik tanpa meninggalkan keluhuran budaya itu sendiri.
3.      Tokoh ketiga yaitu H Achmad Tobroni, yang lebih dikenal Mbah Tobron menghidupkan seni reog saat sempat  mati suri pasca tragedi 1965. Saat itu banyak warok ditangkap karena dianggap ikut terlibat organisasi terlarang PKI. Bersama para warok yang tergabung dalam warok cokromenggalan, Mbah Tobron berusaha melakukan pembaharuan dalam pertunjukan maupun organisasi kesenian. Ia juga gigih membela ketika reog diklaim sebagai kesenian Malaysia. Selai itu, Ia juga ikut mendirikan Yayasan Reog Ponorogo sebagai upaya melestarikan kesenian reog melalui keikutsertaan generasi muda di dalam memainkan kesenian Reog Ponorogo .
4. Tokoh keempat yaitu Tegowati, Gadis muda asal Bojonegoro ini bisa dikatakan sangat menjaga tradisi budaya jawa yang mulai hilang di tinggalkan oleh generasinya. Tegowati adalah contoh salah satu sinden atau ledek ataupun lebih dikenal dengan sebutan sindir yang  tetap berusaha mempertahankan kesenian yang sangat akrab dengan masyarakat kalangan bawah bahkan untuk saat ini sudah merambah sampai ke tingkat kalangan atas. Dengan kecintaannya melestarikan budaya jawa ini sampai mengantarkan Tegowati untuk lebih kenal dengan salah satu budayawan Indonesia dan sudah tak asing lagi namanya di telinga para seniman, nama budayawan  tersebut adalah Aswindo Atmowiroto .
Jika melihat dari sedikit profil beberapa tokoh-tokoh pelestari budaya diatas, kita sebagai bagian dari masyarakat Jawa modern haruslah bangga karena ternyata di tengah arus modernitas yang semakin mendunia, masih ada saja beberapa orang Jawa modern yang berusaha mewariskan kebudayaan lokal kepada generasi muda yang notabene erat sekali dengan kebudayaan modern.
Dan seharusnya, harapan pelestarian budaya lokal tidak hanya menjadi tanggung jawab perorangan para seniman saja , melainkan harapan pelestarian kebudayaan lokal ini juga harus mendapat perhatian khusus dari pihak pemerintah melalui pengimplementasian kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional. Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah disetiap even-even akbar nasional. Misalnya saja tarian-tarian, lagu daerah, makanana khas daerah, dan lain sebagainya. Karena dengan semakin majunya perkembangan teknologi dan modernisasi menyebabkan kebudayaan asli daerah itu semakin terpinggirkan, Karena yang kita tahu selama ini, acara-acara perhelatan besar justru mengundang atau menampilkan artis, tarian atau dance modern yang itu jelas-jelas bukan kebudayaan asli bangsa kita yakni bangsa Indonesia.
Dengan menampilkan tarian-tarian, lagu-lagu daerah, makanan khas, dan lain sebagainya semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan leluhur kita yang harus dijaga, dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia bahwa itu semua adalah kebudayaan asli bangsa Indonesia dan kita harus bangga akan kebudayaan yang kita miliki, karena kita tinggal, karena kita berbahasa, dan karena kita ini adalah warga masyarakat Indonesia. Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal yakni pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan daerah yang kita miliki. pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah .
Realisasi Upaya-upaya diatas, baik yang dilakukan oleh para seniman secara perorangan maupun yang dilakukan oleh pemerintah harus kita yakini sebagai suatu strategi yang jitu untuk memberikan setitik harapan besar bagi kelestarian kebudayaan tradisi yang ada , yang terwujud dalam pelestarian bahasa daerah, kesenian daerah, dan kebudayaan lainnya, khususnya yang terdapat dalam kebudayaan Jawa agar tidak ditinggalkan oleh kawula muda yang notabene akan menjadi penerima tongkat estafet kebudayaan untuk dilestarikan. Apa salahnya bangga akan kebudayaan lokal ( khususnya Jawa )  , karena kita ini adalah bangsa yang kaya akan kebudayaan yang sudah diwariskan sejak dahulu kala, kita tunjukkan kepada dunia bahwa kebudayaan itu tidak ulet dan kolot, kebudayaan itu tidak ketinggalan jaman, asal kita sebagai kaum muda mau mengangkat pamor, melestarikan keberadaan budaya lokal, dan terlibat langsung didalamnya untuk menjadikan kebudayaan itu sendiri tetap hidup dalam bangsa dan hati warga masyarakat Indonesia.
C.     CATATAN PENUTUP
B
eragam wujud warisan lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajarinya. Masalah kebudayaan lokal sering kali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Dampaknya banyak warisan buadaya yang lupuk dimakan usia, terlantar, terabaikan, dan bahkan diklaim oleh negara tetangga. Padahal banyak negara yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jatidirinya dari tinggalan sejarah dan warisan budaya yang sedikit jumlahnya. Kita sendiri bangsa Indonesia yang kaya dengan warisan budaya justru mengabaikan asset yang tak ternilai harganya. Sungguh kondisi yang kontradiktif.
Kita sebagai bangsa dengan jejak perjalanan sejarah yang panjang sehingga kaya akan keanekaragaman budaya lokal seharusnya mati-matian melestarikan budaya dari warisan jaman dulu. Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama dan terus turun-temurun ke anak cucu kita. Jadi bukan pelestarian yang hanya sesaat, berbasis proyek, donor, dan tanpa akar yang kuat didalam masyarakat itu sendiri. Pelestarian tidak akan dapat bertahan dan berkembang jika tidak didukung oleh masyarakat luas dan menjadi bagian nyata dari kehidupan kita. Para pakar pelestarian kebudayaan harus turun dari menara gadingnya dan merangkul masyarakat menjadi pecinta pelestarian kebudayaan yang bergairah. Pelestarian kebudayaan jangan hanya tinggal dalam buku tebal disertai para doktor, jangan hanya diperbincangkan dalam seminar para intelektual dihotel mewah, dan lain sebagainya. Pelestarian kebudayaan harus hidup dan berkembang dimasyarakat, atau bahkan dunia.
Intinya adalah Kebudayaan sebagai warisan dunia tak akan ternilai harganya jika dibandingkan dengan sebuah harta. Karena kebudayaan itu diciptakan tidak lebih dan tidak kurang berpuluh-puluh ribu tahun atau bahkan berjuta-juta tahun yang lalu. Dan itu merupakan warisan dunia yang tersebar luas tidak hanya pada negara Indonesia saja, tetapi hampir semua negara memiliki kebudayaannya masing-masing dengan ciri, serta khasnya yang berbeda-beda.

No comments: